logo shopcumi
  • Politik
  • 6 jam yang lalu

M.H. Thamrin: di atas Mimbar Volksraad, di bawah Langit Kemerdekaan

Image Source : istimewa

































 

Pidato Thamrin di Volksraad mengenai poenali sanctie, hukuman kejam yang membelenggu kaum buruh di Deli Sumatra memiliki magnitudo politik yang luar biasa.  Kata-katanya menyebar ke dunia internasional, tiba di koran-koran Washington, hingga muncul dalam kampanye penolakan membeli tembakau Deli di Amerika Serikat. Tekanan internasional itu membuat poenali sanctie yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda dihapuskan.       


M.H. Thamrin berjibaku membangun Fraksi Nasional di Volksraad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara kolektif. Ia memperjuangkan simbol politik penting. Mengganti sebutan Nederland-indie dan inlander dengan Indonesia. Baginya, identitas nasional adalah langkah pertama meniti jalan kemerdekaan.


Di Volksraad ia hadir sebagai penggugat moral, sebagai suara yang menolak diam di hadapan ketidakadilan dan penindasan yang diciptakan kolonialisme. Di ruang itu, setiap kata yang ia ucapkan bukan hanya pidato, tetapi perpanjangan kehendak politik dan moral sekaligus. Kata-katanya bukan sekadar retorika, melainkan seperti lilin yang menyala di malam panjang yang setia menanti pagi Republik.     


Langkah M.H. Thamrin adalah langkah kooperatif dengan memilih jalan bekerja bersama dengan Pemerintah kolonial. Tetapi itu juga pertanda kematangan politik sekaligus komitmen kerakyatan yang ada pada dirinya. Dia menggunakan instrumen yang diberikan pemerintah kolonial Belanda untuk membangun kapasitas dan kekuatan rakyat. Struktur gerakan kemerdekaan ini kemudian dipersiapkan untuk menghajar balik pemerintah kolonial.


Thamrin menjadi jembatan antar kelompok pergerakan nasional yang radikal dan kooperatif. Thamrin memahami bahwa dua kelompok ini sama-sama memiliki peranan penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.           


Dia menyadari bahwa kolonialisme bukan hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga soal bagaimana masyarakat dibungkam dengan penaklukkan pikiran dan sosial budaya. Ia menulis surat, berbicara, dan membangun kesadaran bumiputra.


Setiap tindakannya adalah strategi halus melawan penundukkan yang menyamar sebagai ketertiban. Thamrin percaya bahwa seorang pemimpin bukanlah mereka yang menaklukkan orang lain, tetapi mereka yang membangkitkan keberanian dalam hati rakyatnya sendiri. Di sinilah Thamrin berbeda: ia bukan pengobar revolusi dengan senapan, tetapi penggerak revolusi dengan pikiran dan keberanian moral.


Sebagaimana ia mengguncang Volksraad dengan kata-kata yang menolak dijinakkan, Thamrin juga menyalakan semangat lain di jalanan Batavia dengan cara tersendiri dan unik: sepak bola.


Ketika setiap stadion sepak bola dipenuhi rasisme dan diskriminasi dengan tulisan, "Verboden voor Inlanders en Houden" (Dilarang Masuk untuk Pribumi dan Anjing). Thamrin mengeluarkan biaya pribadi untuk membangun lapangan yang dapat digunakan bumiputra bermain sepak bola.


Ia percaya sepak bola adalah bahasa kaum tertindas. "Di lapangan, kita setara," katanya kepada seorang pemuda Betawi. "Di situlah republik disemai sebelum bertumbuh.       


related articles
Duet Malvin Thamrin & Caroline Lahirkan Album Suara Alam Semesta Bergenre EDM

  • Music
  • 4 bulan yang lalu
Setelah “Petunjuk Modern” Sukses, Malvin Thamrin Rilis Lagu Kedua “Mimpi ‘Tuk Hidup”

  • Lifestyle
  • 7 bulan yang lalu
Virus Corona Mewabah di Indonesia, Delon Thamrin Ketakutan Tapi Senang Tak LDR-an Lagi

  • Cumi Celebs
  • 6 tahun yang lalu