logo shopcumi
  • Politik
  • 3 jam yang lalu

Penguatan Danantara sebagai Super Holding, Laba BUMN Perlu Kembali Memperkuat APBN melalui PNBP

Image Source : istimewa

































Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengalokasikan sebagian keuntungan yang dihasilkan Danantara sebagai cadangan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan gagasan strategis yang patut didukung.

Sebagaimana diberitakan media online bisnis pada Selasa, 11 Agustus 2026, Purbaya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo sedang mengkaji kemungkinan sebagian keuntungan Danantara dikembalikan untuk memperkuat APBN.

Menurut Purbaya, Danantara juga menghasilkan keuntungan dan Presiden merencanakan sebagian keuntungan tersebut sebagai cadangan untuk APBN. Namun, ia menegaskan bahwa gagasan itu masih dalam tahap pembicaraan dengan Danantara dan belum menjadi kebijakan final.

Menurut saya, gagasan Presiden Prabowo tersebut merupakan arah kebijakan yang logis dalam membangun keseimbangan antara fungsi investasi Danantara sebagai sovereign wealth fund dengan kebutuhan negara menjaga kapasitas fiskal melalui APBN.

Laba Danantara Jangan Hanya Berputar di Ekosistem Investasi

Pembentukan Danantara merupakan salah satu terobosan besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengubah cara negara mengelola aset dan perusahaan BUMN.

Danantara tidak semata-mata harus dilihat sebagai lembaga yang menerima dan mengelola keuntungan BUMN untuk kemudian diinvestasikan kembali. Danantara harus berkembang sebagai super holding nasional yang mampu meningkatkan nilai aset negara, mempercepat profitabilitas perusahaan, melakukan konsolidasi usaha dan menghasilkan sumber penerimaan negara yang berkelanjutan.

Karena itu, jika Danantara berhasil meningkatkan keuntungan portofolio BUMN, maka secara prinsip ekonomi negara sangat wajar apabila sebagian keuntungan tersebut memberikan kontribusi kembali kepada APBN.

Skema tersebut dapat ditempatkan melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya pos Kekayaan Negara Dipisahkan (KND), sepanjang memiliki landasan hukum dan mekanisme penganggaran yang jelas.

Ini bukan berarti Danantara dikembalikan menjadi sekadar "mesin dividen" APBN. Justru sebaliknya, Danantara harus tetap memiliki ruang untuk melakukan reinvestasi, ekspansi, restrukturisasi dan penciptaan nilai. Sebagian laba untuk APBN dan sebagian lainnya untuk pengembangan aset merupakan keseimbangan yang sehat.

Penguatan APBN Melalui PNBP

Kebijakan ini menjadi semakin relevan karena APBN membutuhkan sumber penerimaan yang kuat, berkelanjutan dan tidak hanya bertumpu pada perpajakan.

Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan PNBP sebesar Rp455 triliun. Kebijakan pemerintah sendiri telah menempatkan optimalisasi sumber daya alam, reformasi aset negara dan peningkatan kualitas pengelolaan kekayaan negara sebagai bagian dari strategi penguatan PNBP.

Sementara itu, hingga semester I 2026, PNBP telah mencapai Rp271 triliun atau 46,3 persen dari target APBN dan tumbuh 21,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa PNBP mempunyai ruang strategis untuk terus diperkuat.

Masuknya sebagian keuntungan Danantara ke dalam APBN melalui PNBP dapat menjadi sumber penerimaan baru yang berasal dari optimalisasi aset negara, bukan semata-mata dari peningkatan pajak masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, ini penting. Aset negara yang dikelola secara profesional harus memberikan manfaat kembali kepada negara dan rakyat.

Teori Efektivitas Keuangan Negara

Dalam teori efektivitas keuangan publik, pengelolaan keuangan negara tidak hanya dinilai dari besarnya penerimaan, tetapi dari kemampuan pemerintah mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan pembangunan.

Artinya, apabila aset negara menghasilkan keuntungan lebih besar setelah dikelola melalui sebuah super holding, maka peningkatan keuntungan tersebut harus memberikan dampak terhadap kapasitas fiskal negara.

Di sinilah Danantara mempunyai posisi strategis. Danantara harus mampu mengubah paradigma dari:

aset negara → perusahaan BUMN → dividen menjadi: aset negara → konsolidasi dan transformasi → peningkatan produktivitas → peningkatan profit → reinvestasi → kontribusi APBN → kesejahteraan rakyat.

Dengan demikian, keberhasilan Danantara tidak hanya diukur dari berapa banyak aset yang dikelola, tetapi dari berapa besar nilai tambah yang berhasil diciptakan dari aset tersebut.

Percepatan Profit Perusahaan BUMN

Danantara juga harus menggunakan pendekatan korporasi yang agresif tetapi tetap prudent untuk mempercepat keuntungan perusahaan negara.

Dalam satu tahun pertama, Danantara telah memulai sejumlah langkah fundamental berupa restrukturisasi bisnis dan keuangan, streamlining serta konsolidasi portofolio, pengembangan sektor strategis, hingga opsi likuidasi, merger dan divestasi terhadap entitas yang tidak lagi menjadi prioritas.

Danantara juga melaporkan berbagai inisiatif hilirisasi lintas sektor dengan potensi nilai investasi sekitar US$26 miliar, termasuk pengolahan alumina dan bauksit, bioavtur, bioethanol, industri ayam terintegrasi dan pengolahan garam industri.

Ini menunjukkan bahwa Danantara mulai bergerak dari sekadar pengelolaan kepemilikan menuju penciptaan nilai ekonomi baru.

Apa Saja Terobosan Strategis Danantara sebagai Super Holding? Ada sejumlah agenda yang menurut saya harus terus diperkuat Danantara.


related articles
Syafrudin Budiman Kritik Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Profesi Wartawan dan Insan Pers

  • Politik
  • 3 minggu yang lalu
Ferdy Sambo Gagal Dihukum Mati, Anak Freddy Budiman Beri Sindiran Menohok

  • Seleb News
  • 3 tahun yang lalu
Ramai Isu Selingkuh Syahnaz Sadiqah, Begini Respon Tarra Budiman

  • Cumi Celebs
  • 3 tahun yang lalu