Tangis Panglima Langit pecah ketika ia menjejakan kakinya di kota kelahirannya Aceh Tamiang. Kota yang dulu indah dan mengesankan bahkan menjadi tempat ia menikmati seni arsitektur dengan nuansa barat klasik, kini menjadi lumpuh seakan tak berpenghuni dan dijejali lumpur tebal. Tangis para korban pun pecah ketika rumah mereka disambangi Panglima Langit dan kehilangan semua isi rumahnya diseret oleh arus banjir bandang setinggi tujuh hingga sepuluh meter. Bahkan seorang ibu yang baru menikmati rumah yang dibangun dari uang hasil kerja anaknya selama 20 tahun di Medan pun, kini hanya bisa meratap tangis karena rumahnya hanyut oleh banjir bandang. Padahal mereka berencana akan kumpul di sana jelang Lebaran pada Maret 2026 nanti. Seperti apa perjalanan Panglima Langit yang diliput secara eksklusif oleh Tim Intens Investigasi dari Medan hingga Aceh Tamiang?
DILARANG MENGGUNAKAN KONTEN CUMICUMI.COM TANPA IZIN