Image Source : Tribbun
Jagat maya belum lama ini dihebohkan dengan kemunculan daratan baru seluas sekitar 30,3 hingga 32,8 hektare di dekat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kemunculan daratan tersebut akibat akumulasi material vulkanik dari erupsi menerus pada awal September 2026.
Meski masih diselidiki, namun daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung sudah menyita perhatian warganet. Tidak sedikit yang menduga bahwa daratan tersebut sebagai cikal bakal Cucu Krakatau.
"Ya, enggak jauh, di sekitar itu aja. Hasil dari situ, lontaran apa... hasil erupsi kemarin itu di situ," jelas Suwarno.

Di sisi lain, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, membenarkan adanya daratan baru tersebut. Menurut Suwarno, daratan itu tidak muncul dalam satu waktu. Berdasarkan penuturannya, material hasil erupsi yang keluar dalam periode aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak beberapa waktu lalu secara bertahap menumpuk di kawasan tersebut.
"Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare," katanya.
Namun, terkait dugaan masyarakat bahwa kemunculan daratan tersebut sebagai "cucu" Krakatau, Suwarno belum memastikan hal tersebut. Dia menegaskan kemunculan daratan akibat endapan material erupsi tidak serta-merta menunjukkan adanya gunung api baru.
"Ya, enggak jugalah, enggak," kata Suwarno.
Lebih lanjut, Suwarno juga menjelaskan pergerakan magma di bawah permukaan bumi memiliki jalur yang tidak dapat diketahui hanya berdasarkan perubahan yang terlihat di permukaan. Karena itu, Suwarno mengatakan belum diketahui apakah terdapat pergerakan magma menuju daratan baru tersebut.
"Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar. Enggak tahu juga gitu kan, namanya di dalam, di dalam bumi kita enggak tahu," katanya. (ND)