Image Source : Freepik
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum lama ini mengeluarkan himbauan agar masyarakat dan nelayan tidak mengonsumsi ikan maupun biota laut lain yang ditemukan mati mendadak saat atau setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Muhammad Reza Cordova mengatakanbelum ada laporan mengenai kematian biota laut di sekitar Gunung Anak Krakatau. Oleh karena itu, kematian biota laut ini tidak dapat langsung dikaitkan dengan aktivitas erupsi. Sehingga masyarakat diminta tidak mengambil kesimpulan mengenai penyebab kematian ikan hanya berdasarkan waktu terjadinya erupsi.
"Namun sikap paling aman bagi masyarakat dan nelayan adalah tidak mengonsumsi biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian penyebabnya," kata Reza Cordova, dikutip dari Harian Jogja.
Selain itu, Reza juga mengatakan bahwa bila ditemukan ikan atau biota laut yang mati secara mendadak, penyebabnya perlu dilihat berdasarkan sejumlah faktor. Di antaranya lokasi dan waktu kejadian, arah arus, kondisi perairan, serta kemungkinan penyebab lainnya.
Meski begitu, secara ilmiah material yang keluar dari aktivitas erupsi seperti abu, lava, batu apung, dan partikel halus berpotensi memengaruhi kualitas air. Dampak tersebut antara lain dapat berupa peningkatan kekeruhan, perubahan kimia perairan, hingga masuknya unsur mineral tertentu.
Reza mengatakan pada prinsipnya material vulkanik memang dapat memberikan masukan mineral bagi laut. Namun, hal tersebut tidak berarti material erupsi selalu memberikan dampak positif terhadap lingkungan perairan. Justru material vulkanik juga memiliki sisi lain terhadap ekosistem laut. (ND)