Image Source :
"Paparan panas terhadap penduduk meningkat akibat perubahan iklim. Secara global, kejadian suhu ekstrem terlihat semakin meningkat frekuensi, durasi, dan besarannya. Antara tahun 2000 dan 2016, jumlah orang yang terpapar gelombang panas meningkat sekitar 125 juta orang," seperti dikutip dari situs resmi WHO pada Jumat, 3 Mei 2024.
Hal ini sejalan dengan yang disampaikan pakar keamanan kesehatan lingkungan global, Dicky Budiman,"Gelombang panas yang lebih panjang, lebih intens, dan lebih sering diprediksi akan terjadi di banyak wilayah dunia sebagai akibat dari perubahan iklim."
WHO juga menyampaikan bahwa dampak panas tak hanya dirasakan oleh orang-orang di perkotaan tapi juga di desa.
Meskipun dampak panas mungkin lebih buruk di perkotaan, akibat efek pulau panas perkotaan (urban heat island/UHI), penghidupan dan kesejahteraan masyarakat non-perkotaan juga dapat sangat terganggu selama dan setelah periode cuaca panas yang tidak biasa.
Gelombang panas dapat membebani layanan kesehatan dan darurat serta meningkatkan tekanan terhadap air, energi, dan transportasi yang mengakibatkan kekurangan listrik atau bahkan pemadaman listrik.
Ketahanan pangan dan penghidupan juga dapat terganggu jika masyarakat kehilangan hasil panen atau ternaknya karena panas yang ekstrem.
(Dnd)