logo shopcumi
  • Politik
  • 7 jam yang lalu

Ribuan Anak Lahir Sumbing Tiap Tahun, Smile Train: "Masyarakat Harus Sadar Ke Mana Mencari Bantuan"

Image Source : cumicumi

































Fenomena bayi lahir dengan kondisi bibir sumbing maupun sumbing langit-langit ternyata jauh lebih sering terjadi dari yang diperkirakan banyak orang, yakni mencapai ribuan setiap tahunnya di Indonesia.

Hal itu berdasarkan data yang diungkap oleh Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, ketika hadir sebagai bintang tamu di acara podcast Special Interview Cumicumi.com. Dengan mengacu pada rasio tersebut, Deasy memperkirakan jumlah bayi yang lahir dengan kondisi sumbing di Indonesia bisa mencapai ribuan setiap tahunnya.

"Itu adalah angka dari rata-rata kelahiran 700 kelahiran. Satu bayi lahir dengan kondisi sumbing bibir maupun sumbing langit-langit, jadi dengan populasi kita sekarang, Bisa 7.000 sampai 8.000 bayi lahir sumbing tiap tahunnya " ungkap Deasy dalam acara podcast Special Interview cumicumi.com.

Yang perlu digarisbawahi, angka tersebut baru mencakup kasus baru per tahun. Deasy menjelaskan bahwa di lapangan, timnya masih kerap menemukan pasien-pasien lama yang belum tertangani sejak lama, termasuk yang sudah berusia dewasa.

"Itu yang baru lahir, belum yang belum yang backlog sebelumnya. Makanya masih kita temui pasien dewasa," jelasnya.

Baca Juga: Luapan Syukur Krisdayanti Usai Duet dengan Melly Goeslaw di Panggung Kemerdekaan RI ke-81

Skala penanganan Smile Train Indonesia sendiri turut menggambarkan besarnya kebutuhan ini di lapangan. Deasy mengungkapkan bahwa dalam sebulan, pihaknya bisa menerima 500 sampai 800 permintaan bantuan operasi sumbing dari seluruh Indonesia. Jumlah operasi yang berhasil dilakukan pun meningkat drastis dibanding satu dekade lalu.

"Salah satu yang waktu itu operasi kita setahun masih 200 setahun seluruh Indonesia. Iya, seluruh Indonesia masih 200 pada saat itu. Sampai sekarang sudah kurang lebih hampir 10 tahun operasi kita setahunnya 8.000." kenangnya

Di tengah besarnya angka tersebut, Deasy menitipkan pesan penting kepada masyarakat. Menurutnya, akar masalah bukan sekadar soal angka, melainkan kesadaran untuk segera bertindak begitu ada bayi lahir dengan kondisi sumbing, alih-alih menunda penanganan karena keterbatasan akses maupun stigma sosial di lingkungan sekitar.

"Mimpi saya adalah masyarakat sangat-sangat sadar, tahu bagaimana bisa memberitahu ke mana siapapun yang membutuhkan bantuan untuk operasi sumbing, perawatan sumbing yang berkelanjutan," ujar Deasy.

Ia mengingatkan, keterlambatan penanganan bukan hanya soal fisik, tapi bisa berdampak jangka panjang pada masa depan anak.

"Karena ketidakpedulian kita itu bisa saja mempengaruhi harapan masa depan anak-anak tersebut," tegasnya.

related articles
KKI dan Kedaulatan Ekonomi Digital Indonesia: Tantangan Menghadapi Dominasi Visa dan Mastercard

  • Lifestyle
  • 8 jam yang lalu
Runner Up Miss Grand Indonesia 2025 Putri Juficha Meninggal Dunia di Hari Ulang Tahun

  • Seleb News
  • 4 hari yang lalu
Di Sidang Tahunan MPR, Prabowo Ingatkan Indonesia Perkuat Kemandirian Nasional

  • Politik
  • 5 hari yang lalu