Image Source : cumicumi
Kanker leher rahim memang masih menjadi salah satu momok bagi masyarakat. Baik di Indonesia maupun dunia internasional, kanker leher rahim merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan, hanya kalah dari kanker payudara. Namun berbeda dengan sederet kanker lainnya, kanker leher rahim sebenarnya sangat bisa dicegah.
Menurut praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, ketika menghadiri acara podcast Special Interview, yang tayang di kanal Youtube Cumicumi, ada tiga kunci ampuh untuk mencegah kanker leher rahim, yaitu mencegah, vasksinasi dan deteksi dini.
"Kalau ditanya, Dok, gimana caranya mencegah kanker layar rahim? Tiga. Mencegah, vaksinasi, deteksi dini" kata dr. Ngabila dalam video yang tayang pada hari Minggu (05/07/2026)
1. Mencegah
Terhitung 95 persen kasus kanker leher rahim, disebabkan oleh infeksi virus HPV (human papillomavirus), dan dan 90 persen dari penularan virus tersebut terjadi lewat hubungan seksual. Oleh karena itu, langkah pencegahan pertama yang diberikan oleh dr. Ngabila Salama adalah menghindari hubungan seksual berisiko, seperti berganti-ganti pasangan, serta membiasakan penggunaan alat kontrasepsi.
"Mencegah artinya cegah hubungan seksual berisiko atau berganti-ganti pasangan atau gunakan kondom" sambungnya.
Meski penting diketahui pula, jika 10 persen sisa penularan HPV bisa terjadi lewat kontak kulit dengan kulit, sehingga infeksi ini juga berpotensi ditemukan pada orang yang belum pernah berhubungan seksual sama sekali. Karena itu, kewaspadaan tetap perlu dijaga meski seseorang merasa sudah berhati-hati.
"Tapi infeksi virus HPV kita bagi lagi 90%-nya karena ditularkan melalui hubungan seksual, 10%-nya bisa melalui kontak kulit dengan kulit. Makanya infeksi virus HPV juga bisa ditemukan pada orang yang belum pernah berhubungan seksual sama sekali"
2. Vaksinasi
Vaksinasi menjadi senjata kedua yang disebut dr. Ngabila sebagai langkah paling efektif untuk mencegah kanker leher rahim. Apalagi, jika diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Karena itu, pemerintah menyasar anak perempuan usia 9-13 tahun (setara kelas 5-6 SD) untuk mendapatkan vaksin HPV secara gratis sejak 2016.
"Paling efektif diberikan untuk wanita yang belum wanita dan pria yang belum berhubungan seksual itu akan lebih jauh lebih efektif. Makanya pada anak perempuan diberikan usia 9 sampai 13 tahun yaitu usia anak SD kelas 5 sampai kelas 6 atau sederajat yang enggak sekolah pun juga tetap bisa diberikan" sambungnya
Ke depan, program ini juga akan menyasar anak laki-laki usia 11 tahun, dengan pilot project ditargetkan mulai berjalan di beberapa kota pada akhir 2026. Vaksin HPV bekerja melindungi dari berbagai tipe virus, mulai dari tipe yang paling sering menyebabkan kanker leher rahim, hingga tipe penyebab kutil kelamin.
"Katanya akan pilot di akhir tahun ini 2026 sudah dimulai di beberapa kota. untuk anak laki-laki umur 11 tahun untuk cegah kutil kelamin dan tadi kanker penis, anus, tenggorokan dan perempuan tahu itu" tambahnya lagi
3. Deteksi dini
Langkah ketiga adalah rutin melakukan skrining atau deteksi dini, idealnya setiap 1 sampai 3 tahun sekali. Ada tiga metode yang bisa dipilih:
Pap smear â metode yang lebih dulu dikenal luas, meski menurut dr. Ngabila saat ini HPV DNA PCR dianggap sebagai gold standard karena bisa mendeteksi infeksi virusnya secara langsung.
Bukan Soal Menyalahkan, Tapi Soal Melindungi
Meski begitu, pesan
yang paling ditekankan dr. Ngabila justru sal menghapus stigma. Seseorang yang
sudah positif HPV, punya kutil kelamin, atau bahkan kanker leher rahim, tetap
boleh menjalani hubungan seksual, asalkan menggunakan alat kontrasepsi,
memeriksakan pasangan, dan tetap menjalani vaksinasi karena vaksin masih bisa
melindungi dari tipe virus HPV lainnya.