Image Source :
Kecelakaan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur memang masih menjadi duka bagi banyak orang. Meski begitu, proses evakuasi pasca insiden tersebut kabarnya telah rampung dan jalur kereta telah dinyatakan steril.
Di sisi lain, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba belum lama ini menyatakan bahwa setiap korban dari kecelakaan ini akan mendapat santunan dari pihak KAI. Untuk korban meninggal dunia mendapatkan Rp 35 juta, sedangkan korban luka yang dirawat di rumah sakit menerima Rp 15 juta. KAI juga menjamin penanggungan penuh biaya medis bagi korban luka.
"KAI Group memberi santunan Rp 35 juta (untuk korban meninggal dunia) dan yang (dirawat) di RS sebesar Rp 15 juta," kata Anne.
Bukan hanya itu, Jasa Raharja juga menjamin akan memberikan santunan bagi korban luka maupun meninggal dunia. Kepala Bagian Pelayanan Jasa Raharja Kantor Wilayah Jakarta, Syaiful, menjelaskan untuk korban luka ringan maupun luka berat nilai santunan maksimal adalah Rp 20 juta, sementara untuk korban meninggal akan diserahkan santunan Rp 50 juta kepada ahli warisnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan memberikan santunan tambahan bagi para korban. Ada pula alokasi dana Rp 20 miliar untuk membantu peningkatan fasilitas rumah sakit yang menangani korban.
Sebagai informasi, kecelakaan antarkereta ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuterline atau Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 sekitar pukul 20.57 WIB. Insiden bermula ketika sebuah taksi online Green SM mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan kereta, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Kombes Budi, hingga Rabu (29/4/2026) pukul 11.00 WIB, tercatat total korban kecelakaan kereta api ini mencapai 106 orang. Terdiri dari korban luka-luka sebanyak 90 orang, sementara 44 orang di antaranya telah menjalani perawatan dan diperbolehkan pulang. Sedangkan korban meninggal dunia tercatat 16 orang yang semuanya berjenis kelamin perempuan. (ND)