Image Source : istimewa
Denny Sumargo kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap sebuah kasus yang menyita perhatian publik. Kali ini, mantan pebasket sekaligus presenter itu ikut mengawal dugaan kasus pembakaran santri di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, niat Denny menghadirkan para korban ke podcast miliknya mendadak gagal. Kabar yang diterimanya membuat publik ikut bertanya-tanya.
Melalui unggahan di Instagram, Denny mengungkap bahwa dua korban yang sebelumnya dijadwalkan terbang ke Jakarta justru batal berangkat. Ia mengaku telah menyiapkan tiket pesawat hingga akomodasi bagi keluarga korban agar bisa menceritakan langsung apa yang mereka alami.
"Namun hari ini gue mendapat kabar bahwa mereka tidak boleh berangkat," ujar Denny.
Ucapan itu langsung memancing perhatian warganet. Banyak yang mempertanyakan alasan di balik batalnya keberangkatan kedua korban. Denny pun mengaku memahami jika masyarakat mulai bertanya-tanya.
"Kenapa mereka sampai tidak jadi berangkat? Apa yang sebenarnya terjadi? Masyarakat itu bukan ingin menyalahkan. Justru karena mereka melihat korban yang sudah hilang begitu banyak, tapi masih kesulitan untuk menyampaikan suaranya," kata Denny.
Menurutnya, keterbukaan menjadi hal penting agar tidak muncul berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengajak publik ikut mengawal proses hukum kasus tersebut.
"Tolong bantu kawal," tegasnya.
Baca Juga: Masih Anak-anak, Gadis Ini Malah Kerja Jadi LC di Bali, Fakta di Baliknya Bikin Miris
Tak lama setelah video pertamanya viral, Denny kembali membuat klarifikasi. Ia mengoreksi informasi yang sebelumnya menyebut laporan polisi telah dibuat sekitar tujuh hingga delapan bulan lalu. Setelah berbicara dengan kuasa hukum korban, Denny menjelaskan bahwa peristiwa dugaan pembakaran terjadi pada Desember 2025. Namun laporan resmi ke polisi baru dibuat pada Juni 2026 karena keluarga korban disebut masih menunggu itikad baik dari pihak yang diduga terlibat. Denny juga meluruskan alasan mengapa kedua korban akhirnya tidak berangkat ke Jakarta.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari kuasa hukum korban, Ahmad Deven Ramdan (14) dan Sahid Al Hudri (14) masih menjalani perawatan di rumah sakit sehingga belum diizinkan bepergian. Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa keduanya dicegat polisi saat hendak berangkat dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), Lombok. Belakangan dijelaskan bahwa penghentian keberangkatan dilakukan karena kondisi kesehatan korban yang masih membutuhkan penanganan medis, sekaligus proses penyidikan kasus yang masih berjalan.
Kasus dugaan pembakaran tersebut sebelumnya menggemparkan publik setelah menyebabkan seorang santri meninggal dunia, sementara dua korban lainnya mengalami luka bakar serius hingga mengalami cacat permanen. Kini, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada proses hukum yang sedang berlangsung, tetapi juga pada langkah Denny Sumargo yang memilih menggunakan platform miliknya untuk membantu menyuarakan kisah para korban. (Lato)