Image Source : cumicumi
Diskursus soal kesehatan mental, belakangan ini semakin sering saja menjadi perbincangan publik. Publik terkadang berpikir, mengapa secara tiba-tiba, kesehatan mental menjadi topik hangat serta memakan korban yang tidak sedikit. Mengingat sebelum mendapatkan sorotan, kesehatan mental kerap kali dikesampingkan.
Menanggapi itu semua, dr. Ngabila Salama pun berbagi pandangan. Ketika tampil di acara podcast Special Interview bersama Dire dan Host, Vincent Bero, dr. Ngabila menjelaskan bahwa perkembangan media sosial, menjadi salah satu faktor yang mengganggu kesehatan mental masyarakat.
"Sekarang lebih aku lihat media sosial ya jadi masalah mental health itu bisa kena di semua spektrum usia dari balita bisa kena karena screen time orang tuanya sibuk bekerja segala macam screen time akhirnya apa Sedentary life, obes gemuk akhirnya dia Jadi prestasi belajar menurun, enggak PD dibully karena obesitas. Nah, itu masalahnya. Kadang-kadang dia hiperaktif dibilang nakal, dijewer. Padahal itu adalah bentuk salah satu kreativitas, kecerdasan motorik, ya kan? Terus anak usia sekolah biasanya bullying yang tidak terdeteksi itu sangat mengganggu mental dan itu membuat seseorang menjadi inferior ya kan" ujar dr. Ngabila Salama
Menurutnya, media sosial kerap kali memberikan ekspektasi hidup yang cenderung jauh dari kenyataan. Semua yang tampil, hanyalah sisi baiknya. Kemewahan, Kebahagiaan, hingga Pencapaian yang luar biasa. Publik terkadang lupa, bahwa di baliknya terdapat cerita yang tidak disiarkan besar-besaran.
"Sebenarnya medsos itu kan adalah flexing terselubung yang kita enggak tahu behind the scene. Kadang-kadang orang kan ngelihatnya cuma yang indah-indahnya aja. Medsos itu semuanya isinya flexing. Enggak mungkin enggak flexing, ya kan? Nah, tapi behind the scene-nya apa yang terjadi? Orang tidak ditampilkan kan sehingga tidak mendapat cerita secara utuh. Nah, itulah tadi Self Diagnose" tambahnya
Lewat kesempatan ini, dr. Ngabila pun memberikan pesan kepada masyarakat, untuk tidak lagi merasa sungkan mencari pertolongan. Apalagi, mengingat banyaknya wadah yang telah disiapkan pemerintah, untuk memerangi gangguan kesehatan mental di masyarakat Indonesia.
"Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI sudah memiliki
layanan konsultasi online ke psikolog di Puskesmas, psikolog klinis, semua
Puskesmas Kecamatan sudah ada itu gratis. Kalau mau ke rumah sakit rujukan
berjenjang BPJS. Bahkan sekarang di RS Soeharto Heerdjan misalnya RS Grogol itu sudah
bisa rehabilitasi psikososial. Artinya untuk yang pernah kejiwaan berat ya,
skizofrenia itu bisa dilatih sampai dia bisa punya prakarya, bisa berdaya, bisa
menghasilkan uang kayak gitu. Itu sudah saking sampai ke negara sudah menjamin
seperti itu ya untuk program yang gratis, tapi juga online pun ada" ucap dr.
Ngabila