Setelah melangsungkan pernikahan pada Selasa, 18 Oktober 2011 lalu, di Bangsal Kencana, Kraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan KPH Yudanegara masih harus menjalani serangkaian acara adat pasca menikah. Sultan Hamengkubuwono X pada Minggu (27/11) malam menggelar acara *ngunduh mantu* di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan.
Jika prosesi akad nikah sangat kental dengan adat Jawa, tapi pada acara ngunduh mantu begitu kental dengan adat Lampung, kampung halaman KPH Yudanegara alias Ubay. Nggak heran Gusti Kanjeng Ratu Bendara atau Reni mengaku sedikit mengalami kesulitan.
“Kalau Jogja lebih lama ya karena kan prosesinya 4 hari. Tapi menurut saya nggak terlalu ribet karena saya cukup mengerti. Walaupun ini acaranya hanya satu hari tapi saya kurang mengerti, saya agak kesusahan mengikuti. Mungkin Ubay sebaliknya, karena kan bahasanya susah ya,” jelas Reni.
Meski mengaku mengalami kesulitan, Reni mengaku sangat bangga dengan upacara adat asal sang suami. Sedikit informasi, acara adat yang digelar dengan adat Lampung tersebut rupanya hanya sebagian saja. Mengingat keterbatasan waktu, jadi hanya digelar enam sesi acara.
“Busana menggunakan adat Lampung Papadun terutama dari Kabupaten Tulang Bawang, jadi daerah asalnya manten laki-laki. Dan memang busana iru asli sejak tahun 25 dirawat sama kepala adat,” terang Tursadi Alwui, kerabat Ubay.
Nggak hanya itu, Ubay dan Reni juga harus menarikan tarian adat Lampung untuk melengkapi gelaran acara tersebut.
“Yang pasti grogi ya walaupun kita sudah latihan beberapa kali tapi pastinya grogi,” pungkasnya. (cumicumi@Vin)