Kekompakan dan rasa solid memang sangat dibutuhkan bagi sebuah band. Tanpa solidaritas dan kekompakan, sebuah band nggak akan berumur panjang apalagi meraih popularitas. Seperti yang dialami band ST 12 dimana nasibnya sedang ada di ujung tanduk.
Pasalnya, personel band yang identik dengan musik melayu itu tinggal satu, yakni sang drummer Pepep. Charly dan Pepeng memutuskan mundur dan memilih jalan sendiri.
Mundurnya dua personel ST12 itu dianggap merugikan banyak pihak. Bahkan, kabarnya, Pepep merasa terdzolimi dengan keluarnya Charly dan Pepeng. Benarkah Pepep terdzolimi?
"Sampai saat ini aku nggak tahu kenapa Charly memutuskan berhenti dari ST 12. Karena aku selalu berpikir positif, teman aku, sahabat aku walaupun dia berdzolim kepada aku, aku tetap *positive thinking*," ujarnya saat jumpa pers di basecamp ST12, Jl Stasiun Timur 12, Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/10).
Walaupun ST 12 didirikan oleh keluarga Pepep, tapi sampai detik ini Pepep tak merasa memegang kendali sepenuhynya. “ST 12 milik kita bersama,” sambungnya.
Pepep banyak mendapatkan masukan dari ST Setia, sebutan penggemar ST 12, dimana mereka keberatan jika nama keluarga besar Pepep disangkutpautkan dalam masalah yang terjadi di dalam tubuh ST 12.
**"...walaupun dia berdzolim kepada aku, aku tetap *positive thinking*."**
Walau bagaimanapun, setiap manusia memang memiliki kekurangan. Pepep menganggap apa yang dialaminya saat ini merupakan sejarah dari ST12.
"Keluarga besar aku nggak bilang ST 12 itu milik kita. Mungkin keluarga cuman berbicara, menceritakan kebenaran tentang sejarah itu," pungkas Pepep. (cumicumi@Vin)