Julukan dai sejuta umat yang diberikan kepada Almarhum KH. Zainuddin MZ terbukti saat kyai 60 tahun itu hendak dimakamkan di areal masjid di depan rumah duka. Ribuan masyarakat ikut menghantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir.
Bahkan jenazah Almarhum disholatkan sebanyak tiga kali mengingat banyaknya umat yang ingin mendoakan. Anak pertama Zainuddin MZ, Fikri Haikal berencana akan membuat sebuah pondok pesantren (Ponpes) di lingkungan makam ayahnya. Lagipula hal ini merupakan keinginan dari KH Zainuddin MZ sejak lama.
"Sekolahan sudah punya. Kita memang berencana membangun sebuah miniatur ponpes yang mengelilingi kediaman beliau. Beliau suka curhat, nggak segampang membalikkan telapak tangan, gigih, ulet. Makanya kita mau meneruskan keinginan beliau," ujar Fikri saat ditemui di rumah duka di jalan H. Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (05/07).
Ponpes ini rencananya ditujukan untuk menciptakan penerus-penerus dai seperti KH Zainuddin MZ. Apalagi saat ini sangat jarang ada anak muda yang mau menjadi pendakwah. Jadi langkah yang diambil Fikri sangat tepat sehingga ajaran agama Islam di Indonesia tetap tersebar.
"Saya melihat beliau seorang mujadid (ahli dakwah), ditentukan oleh Allah, yang adanya 100 tahun sekali ada mujadid dalam bidangnya, yang nggak bisa dikaderisasi, karena yang bentuk jamaah. Semoga beliau wafat dan ada Zainuddin muda yang berkompeten dan punya bobot terhadap agama Islam," ujarnya.
Areal masjid memang bukan tempat pemakaman. Tapi Almarhum memang sempat bercanda ingin dimakamkan di areal masjid tersebut. Maka keluarga akan membiarkan makam Almarhum tanpa pembatas pagar meski akan dibangun Ponpes.
"...Makanya kita mau meneruskan keinginan beliau"
==================================================
"Kita sadar dari awal Zainuddin MZ bukan hanya punya kita tapi juga punya umat. Nggak akan ada pagar pembatas. Kami sekeluarga memperbolehkan umat untuk siapa saja berziarah ke makam beliau," pungkasnya. (cumicumi@Vin)