Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Bukan Jadi Penyanyi, Ini Sebenarnya Mimpi Besar Tompi

CUMI CELEBS
Bukan Jadi Penyanyi, Ini Sebenarnya Mimpi Besar Tompi

Memiliki suara merdu dan manggung dari satu tempat ke tempat lain, rupanya menjadi penyanyi profesional bukan mimpi seorang Tompi. Menjalani sejumlah profesi mulai dari dokter hingga fotografer, Tompi baru mengungkap mimpi besar yang akhirnya terwujud.

tompi2.jpg

“Bikin film buat saya memang mimpi saya sih. Nyanyi, bikin album, itu bukan mimpi saya. Saya enggak pernah ada cita-cita mau jadi penyanyi sebenarnya. Tapi ketertarikan saya dengan dunia teater, ketertarikan saya sama puisi zaman SD, SMP, SMA, ya itu yang saya turutin. Jadi pas SD, SMP, SMA, saya cukup aktif di sangar tari, tari tradisional. Saya ikut sanggar tari saman dan Sedati Aceh, terus saya ikut sanggar teater, saya aktif dipuisi, saya enggak pernah nyanyi. Tapi tiba-tiba kuliah saya jadi penyanyi, tapi itu bukan mimpi, itu rezeki nomplok saja. Tapi kalau yang memang mimpi saya ya bikin film, dan sekarang setelah dapat kesempatan, kalau enggak saya penuhi ya sayang,” ungkap Tompi saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (30/9).

BACA JUGA, Tompi di Balik Foto Jalan Santai Keluarga Jokowi Tanpa Kaesang Pangarep

Dipilih Desta menjadi sutradara film Pretty Boys, awalnya Tompi ragu. Ada saja kekhawatiran dalam benaknya, namun akhirnya Tompi bisa membuktikan diri dan ada rencana menggarap film baru. Benarkah Tompi akan meninggalkan profesi lamanya dan fokus di belakang layar?

“Saya enggak nagih untuk main sih. Saya bukan calon pemain yang baik, tapi kalau directing saya cukup sih. Jadi saya fokus mau director,” jawabnya.

desta-vincent2.jpg

“Belajarnya dari SD, SMP, SMA. Saya sudah demen dari sana sih. Sebenarnya sama saja kok. Menurut saya ini mungkin saya salah, tapi men-direct itu semacam bagaimana kita mengatur adegan itu supaya berjalan seperti apa yang di kepala kita, kan begitu kira-kira. Nah, untuk mengatur itu kan untuk menggambar apa yang ada di kepala kita itu kan perlu wawasan, perlu refrensi, kita perlu pengalaman hidup selama ini itu ngapain saja. Jadi sekolah untuk menjadi director itu adalah ngambil ilmunya supaya bahasanya baku. Sama kayak orang main musik, orang sekolah musik supaya dia tahu apa yang dia mainin. Tapi ada juga orang yang bisa main tapi nggak tau apa yang di mainin. Nah, mungkin saya saat ini masih dalam tahap yang bisa mengerjakan tapi nggak tahu apa yang bisa saya kerjain. Bukan berarti saya boleh berbangga diri dengan status ini. Ke depannya saya akan belajar, jadi saya rasa proses belajar ini bisa dikejar dalam berbagai cara. Perbanyak baca, supaya tahu istilah, tahu standar bakunya, tahu misalnya bahasa yang digunakan dalam men-direct. Sehingga dalam produksi itu kita nggak kayak yang ngomong ana, anu, sana, sini, tapi jelas gitu,” tandasnya. O gun/vin