Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Viral Cerita KKN Desa Penari, Dewi Gita Selalu Bawa Ayat Kursi Saat Naik Panggung

CUMI CELEBS
Viral Cerita KKN Desa Penari, Dewi Gita Selalu Bawa Ayat Kursi Saat Naik Panggung

Dewi Gita tak menampik keberadaan makhluk gaib. Bahkan ia sendiri pernah mengalami hal mistis saat menari. Karena itulah, Dewi tak pernah lupa membawa Ayat Kursi sebelum naik panggung untuk menghibur penonton.

dewi-gita2.jpg

“Sebenarnya kalau saya pribadi, saya sudah siap apapun yang terjadi. Kalau pas mau nari saya selalu bawa Ayat Kursi. Berdoa dulu sama Allah. Tapi di luar itu saya memang dapat sensitivitas yang lain dari Allah, ya saya bersyukur bisa merasakan ada hal-hal yang orang lain nggak rasakan. Nggak jadi sesuatu yang riya buat diri sendiri. Yang penting tidak membahayakan, ya sudah Bismillah,” kata Dewi Gita saat ditemui di Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (4/9).

BACA JUGA, 11 Januari, 25 Tahun Dewi Gita dan Armand Maulana Bersama

“Kalau pernah apa nggaknya biasanya kita yang kena itu nggak sadar. Misal kita lagi kerasukan atau ngapain kan nggak sadar. Tapi saya pernah ngalamin, entah itu pemain gamelannya yang jadi beda atau entah penarinya kayak orangnya nambah. Terus teman penari kita pas kita lagi gerakannya apa tiba-tiba dia beda sendiri dan ternyata itu bukan dia. Kalau yang seperti itu sudah saya alami,” lanjutnya.

Apa yang dialami Dewi memang beda dengan cerita yang belakangan viral, yakni KKN Desa Penari. Namun Dewi sampaikan pesan khusus di balik kisah yang menjadi topik pembicaraan di kanal mayapada itu.

dewi-gita3.jpg

“Ya kalau menurut aku sih, itu kan cerita lama ya dan baru viral sekarang. Tapi kalau nanya ke saya ya apakah benar desa itu memang berhantu. Nanti kalau aku bilang iya, desa itu mistis saya didemo warga desa situ. Tapi mungkin ya memang kita kalau datang ke suatu daerah, apalagi yang masih menjunjung adat budaya yang luar biasa, kita memang harus menghormati. Kalau kita sudah salah langkah saja, salah sikap saja kalau lagi ada di daerah itu, fatal pasti. Pasti kita bakal dapat sesuatu yang enggak mengenakan. Entah itu dari semestanya, dari alam yang marah, atau penduduknya yang marah. Jadi di manapun kita menuju, kita menapak di manapun, harus tahu diri. Harus mengetahui adat istiadat mereka yang ada di situ. Mungkin saat itu mereka para mahasiswa ada yang sompral, ada yang salah bertutur kata atau salah bertindak. Kita enggak tahu ya. Saya juga enggak tahu kronologi cerita yang jelas seperti apa,” tandasnya. O gun/vin