Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Mina...

CUIITAN KANG MAMAN
Mina...

Saat mengetik cuiitan ini, mata saya terus menatap berita di layar kaca dengan nanar. Ada 453 jemaah haji dikabarkan meninggal dunia, hingga Kamis, 24/9, pukul 18. 40 WIB, dalam musibah Mina. Di antara jemaah yang wafat, dikabarkan ada satu orang yang berasal dari Probolinggo, Indonesia.

Dari mana pun jamaah berasal, meski bukan berasal dari Indonesia, mari bersama mendoakan, semoga Allah menerbangkannya langsung ke surgaNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan iman. Amin.

Musibah Mina kali ini bukan yang pertama. Dari data Khaleej Times, yang dikutip sejumlah media di sini, musibah 2015 merupakan Tragedi Mina yang ke-8. Sebelumnya, pada 2 Juli 1990 sebanyak 1426 korban wafat. Itulah jumlah terbanyak sejauh ini. Lalu 23 Mei 1994, Mina kembali memakan korban, 270 jamaah berpulang. Berlanjut empat tahun kemudian, yakni pada 9 April 1998, sebanyak 118 jamaah syahid di Mina. Pada 2001, tepatnya 5 Maret, Mina kembali menelan korban, 35 wafat. Lalu, 11 Februari 2003, sebanyak 15 orang meninggal. Setahun setelahnya, 1 Februari, 250 jemaah pelempar jumrah tutup usia. Sementara pada 12 Januari 2006, 364 jamaah kembali kepelukanNya untuk selama-lamanya. Pada Musibah Mina tahun 1990, salah seorang jamaah haji asal Indonesia yang selamat dari musibah itu adalah artis Hj Dorce Halimatussa'diyah, dan media ramai memberitakan dengan segala "kontroversinya".

Kali ini, para "pengamat" di timeline twitter pun seperti saling berlomba menganalisanya. Ada yang belum apa-apa, sudah yakin 100 persen bahwa musibah ini adalah kesalahan Arab Saudi dalam menangani pelaksanaan haji. Saya hanya bisa terhenyak. Saya -- dan insya Allah teramat banyak yang lainnya -- lebih memilih melantunkan doa untuk semua jamaah, baik yang terhindar dari musibah, yang terluka karena musibah dan berpulang untuk selama-lamanya di wilayah yang menjadi tujuan pelemparan jumrah, juga yang sebelumnya telah terlebih dahulu berpulang karena tertimpa alat berat di Masjidil Haram. Dan berharap sepenuh jiwa, meski rangkaian ibadah haji belum selesai, agar semua jamaah yang berpulang langsung berjajar, antre di pintu surga, sesuai janjiNya:

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi SAW.” (HR. Bukhari no. 1520)

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi memaparkan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.”

Amin, ya Rabbal alamin.