Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Bahkan Tuhan pun Tak Ditakuti Pembajak!

CUIITAN KANG MAMAN
Bahkan Tuhan pun Tak Ditakuti Pembajak!

Saat menjadi Ketua Komisi Yudisial (2005-2010), Busyro Muqoddas pernah menyatakan bahwa Indonesia tercatat sebagai negara pelanggar hak cipta terbesar keempat di dunia. Busyro tak lagi di KY, dan berlabuh di KPK, tapi saya masih meyakini kalau "pernyataan lama" Busyro itu masih belum bergeser sedikit pun. Di negeri ini pelanggaran hak cipta masih terjadi setiap detik, menit, dan jam. VCD bajakan masih dijual dengan terang-terangan di mal-mal besar. "Penggrebekan" oleh aparat tidak menjerakan karena kesannya masih angin-anginan.

Dan beberapa waktu belakangan ini, Inul Daratista dengan rumah karaokenya masih juga dililit persoalan yang sama. Lalu, artis lawas yang juga guru senam Minati Atmanagara mengaku terkaget-kaget karena ditetapkan sebagai tersangka berkaitan dengan persoalan hak cipta gerakan senam yang dilaporkan instruktur senam Roy Tobing. Tapi, Minati melawan dan mengaku punya bukti kuat dirinya tak melakukan hal itu. "Saya punya surat dari HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) bahwa senam saya dengan Roy berbeda," demikian pernyataan Minati yang dikutip media.

Mari kita tunggu kelanjutannya, dan semoga proses peradilan dan keputusannya kelak, makin membuat persoalan hak cipta ini terang benderang, mengenai siapa yang salah, siapa yang benar. Toh kita semua ingin disebut manusia yang beradab, warga dunia yang beradab, yang salah satu cirinya adalah mampu menghargai hak orang lain!

Saya masih percaya, warga bangsa yang mengaku pancasilais ini antipembajakan, antipelanggaran hak cipta. Meski, ketika kita masuk ke dalam rumahnya atau ke mobil mewah yang dikemudikannya, masih ada CD atau VCD bajakan yang dibelinya tanpa perasaan bersalah. Juga masih ada produk-produk KW yang melekat di tubuhnya dan dikenakan dengan tanpa malu-malu.

Teringat "kasus" Bob Geldof. Pada 13 Juli 1985 rocker ini menggelar konser amal penggalangan dana untuk membantu rakyat Ethiopia yang dilanda kelaparan. Konser Live Aid diselenggarakan serentak di dua tempat, Stadion Wembley, London, Inggris dan di Stadion John F. kennedy, Philadelphia, Amerika Serikat. Konser yang melibatkan banyak penyanyi ternama ini disiarkan melalui televisi ke seluruh dunia.

Tak lama setelah konser digelar, beredar kaset berjudul Live Aid, berisi lagu-lagu yang dinyanyikan dalam konser tersebut, dan dijual di beberapa negara di Timur Tengah. Pada kaset tercantum "Made in Indonesia", dan ada yang memakai pita cukai Indonesia. Juga tercantum informasi bahwa hasil keuntungan penjualan akan disumbangkan ke Ethopia. Diperkirakan ada 10 perusahaan rekaman di Indonesia yang terlibat pembajakan Live Aid. Bob Geldof dan sejumlah artis lain berang, marah besar terhadap Indonesia. Mereka protes melalui media massa sedunia dan menuduh Indonesia berperilaku tidak etis. Saat itu secara hukum Indonesia tidak dapat ditindak karena belum menandatangani konvensi Bern tentang Hak Cipta Internasional, dan di dalam negeri belum ada UU antipembajakan.

Tapi apakah kita ingin tetap seperti dahulu kala, seperti 30 tahun lalu, dipermalukan dunia karena persoalan hak cipta, padahal saat ini Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta?

Kalau ditanya solusinya, teringat kalimat satir yang tertulis di semua kaset yang pernah diproduksi almarhum Benyamin S. Komedian serbabisa ini, saking kecewanya dengan pembajak, menulis peringatan: "Awas Jangan Bajak, Tuhan Lihat!" Eh, masih juga dibajak. Pembajak di negeri ini rupanya tak takut, bahkan kepada Tuhan.

Bang Ben resah, namun berusaha tenang. Ia berujar, "Saya percaya sekali hukum karma. Kalau orang mau bajak, terserah. Tapi nanti dibajak lagi rejeki lu. Orang boleh nipu 100 perak, tapi rejekinya bakal dirampok 20 atau 30 tahun. Berapa banyak orang yang nipu kite, sekarang pada miring-miring kajang.”

Saya pun percaya, tak ada yang mau dirampok. Karenanya, jangan merampok! Atau, bakal "miring-miring kajang," seperti kata Bang Ben.