Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Nama...

CUIITAN KANG MAMAN
Nama...

Jika kusebutkan nama-nama ini, kenalkah? Agung Yulianto, Ani Setiawati, Sanny Aura Syahrani, Siti Khodijah, Bimo Setiawan Almachzumi, Mirza Riadiani, Krisman Rahardi, Sri Wahyuningsih, Decy Meilani Susanti? Dijamin banyak yang menggeleng.

Tapi, Kalau kusebutkan nama-nama ini, bagaimana?

Ki Joko Bodo, Annisa Bahar, Aura Kasih, Ayu Azhari, Bimbim "Slank", Chicha Koeswoyo, Chrisye (alm), Cici Tegal, Cut Memey. Dijamin, banyak yang langsung mengangguk, mengaku mengetahuinya. Paling tidak, lewat infotainment atau pemberitaan di rubrik Hiburan atau Apa & Siapa.

Padahal, deretan nama berurut yang pertama kutanyakan sama saja orangnya dengan yang kusebutkan pada pertanyaan kedua.

Sekali lagi, dan kali ini, kubalik. Tahukah nama asli Didi Kempot, Dik Doang, Evie Tamala, Deddy Corbuzier, Sania dan Sule? Nih, kubocorkan biar tak repot mencarinya: Didi Prasetyo, Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda Kusuma, Cucu Suryaningsih, Deddy Cahyadi Sundjoyo, Siti Tuti Susilawati Sutisna, dan Entis Sutisna.

Konon "Tamala" pada Evie Tamala itu merujuk pada daerah asalnya, "Tasikmalaya", sebagaimana halnya pencipta lagu Harry Tasman (singkatan dari Tasikmalaya-Manonjaya) dan penyanyi jaman kiwari, Yessy Gasela (Garut Selatan).

Banyak hal yang mendasari seseorang mengubah atau mempertahankan namanya. Ada karena pertimbangan orang lain (sutradara atau produsernya), ada karena pertimbangan kepraktisan, ada karena senang dan "keterusan" dengan nama panggilan di masa kecilnya, ada karena harapan agar rezeki makin melimpah, dan ada yang berganti nama karena nama aslinya "konon" membuatnya sering sakit-sakitan, seperti Sudarwati menjadi Titik Puspa atau Rianto jadi Tukul, lalu diberi tambahan Arwana oleh sahabatnya yang juga seorang penyanyi agar "membawa berkah". "Ikan Arwana kan mahal harganya," terang Tukul saat berbincang dengan saya. Oh ya, cerita lain di balik nama Titik Puspa yang berubah lebih dari sekali adalah, dia memakai nama itu saat mendaftar ikut lomba nyanyi, agar ayahnya yang tak setuju dia menjadi penyanyi tidak mengetahuinya.

Lalu ada cerita apa dibalik nama "Tuhan" atau "Saiton" yang belakangan ini diramaikan bahkan diributkan hingga ke tingkat "elit" agama? Juga kemudian muncullah nama-nama "unik" yang terungkap, yang entah benar atau tidak, seperti nama "Dontworry", "Satria Baja Hitam", "Royal Jelly", " Anti Dandruf", "Minal Aidin Wal Faizin" dan "Selamet Dunia Akhirat" ? Tentu, punya cerita masing-masing yang bisa menimbulkan, sepercik senyum bahkan tawa, mengangguk memamahami, sampai meminta mereka untuk sebaiknya mengubah nama. Sama dengan yang saya alami saat menanyakan nama seseorang yang baru saya kenal, dan ia menyebut "Nama". Ya, dia tidak sedang bercanda, karena di KTP-nya, di kolom "Nama" tertulis nama "Nama"!!!

Saya tak punya kuasa untuk menilai tentang nama-nama pilihan itu. Saya hanya teringat kalimat ibu saya, bahwa nama adalah doa, dan jangan panggil temanmu dengan nama ejekan atau nama-nama yang buruk. "Apa kamu mau namamu dipanggil dengan nama yang buruk, atau nama hewan, misalnya?" Tanya ibuku. Meski kelak kemudian saya tahu ada nama Gadjah Mada, Singodimedjo, bahkan sahabat saya memberi selipan nama dua anak laki-lakinya "Gajah" dan "Badak" agar keduanya bisa sekuat Gajah dan Badak dalam menghadapi kehidupan yang berat ini. Juga "Garuda" "Elang", dan masih banyak lagi. Sementara teman perempuan yang kukenal, ada yang menyandang nama tumbuhan (bunga): Mawar, Rose, Melati, Melur, Puspa, atau (buah) Persik.

Kata orang, apalah arti sebuah nama, seperti yang pernah diucapkan Shakespeare? Saya cuma bisa mengingatkan, jangan main kutip sepotong-sepotong, agar makna yang sebenarnya tidak terdistorsi, hilang atau berubah sama sekali. Karena, secara lengkap Shakespeare menuliskan, yang artinya kira-kira seperti ini: "Apalah arti sebuah nama? Andaikan pun kita menyebut Mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum."

Kita cuma berharap, jika nama adalah doa, semoga harapan menjadi kenyataan.