Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

70 Tahun Merdeka "Membajak" Negeri Sendiri

CUIITAN KANG MAMAN
70 Tahun Merdeka "Membajak" Negeri Sendiri

17 + 8 + 45 = 70.

70 tahun sudah negeri tercinta, Indonesia, menghirup udara kemerdekaan. Terlepas dari penjajahan. 7 presiden telah memimpin negeri ini. Ada sekian orang di negeri ini yang telah merasakan nikmat "merdeka", yang hartanya takkan habis 7 turunan. Ada juga, dan tidak sedikit yang masih berada di bawah garis kemiskinan, dan masih terus dilanda penyakit pusing 7 keliling.

Saat menjadi juri Lomba Stand Up Comedy dan Band antarwarga binaan lembaga pemasyarakatan se Bandung di LP Wanita Bandung, Kamis (14/8) lalu, seorang napi peserta lomba memancing tawa dengan kalimat satirnya, "Api arti merdeka?" Ia jawab sendiri pertanyaan yang diajukannya, "jika Soekarno-Hatta berjejer berlapis-lapis di saku celana kita. Tapi kalau yang berjejer (gambar) Kapitan Pattimura, itu artinya kamu harus membajak sawah lebih keras dan lebih giat lagi!"

Untuk hidup, merdeka saja memang tidak cukup. Kita harus mengisinya dengan kerja keras. "Membajak sawah," tegas Seppi, napi tersebut. Dan seniman, sadar hal itu. Mereka tak henti berkarya. Menulis lirik, mencipta lagu, menghibur warga bangsa. Tapi apa hendak dikata, banyak yang nasibnya tetap terpuruk. Justru oleh apa yang disebut Seppi: membajak!

Negeri ini seperti surga bagi para pembajak karya cipta di berbagai bidang. Tak terkecuali, di industri musik. Gita Wiryawan saat menjadi Menteri Perdagangan (2013) pernah mengungkapkan, potensi kerugian industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai Rp 4,5 triliun per tahun. "Jika nilai konsumsi musik per orang sebesar Rp 20.000 per tahun, nilai potensi konsumsi musik mencapai Rp 5 triliun per tahun. Namun, yang bisa dinikmati oleh para musisi tersebut hanya sepuluh persen," kata Gita saat itu.

"Illegal download per detik mencapai 92 lagu. Coba kalikan satu tahun itu ada 2,8 miliar lagu. Berapa kerugian negara di situ? Berapa triliun? Ini kan menyedihkan," kata anggota DPR yang juga musisi, Anang Hermansyah, pada 18/5/2015, seusai audiensi dengan Presiden Joko Widodo, bersama sejumlah musisi dan penyanyi seperti Dwiki Darmawan, Yovie Widianto, Zaskia Gotik, Marcell Siahaan, dan grup band Kotak.

Sungguh tidak adil, yang mencipta hanya mendapat 1/2 triliun, sementara para maling meraup 4,5 triliun dengan tenangnya. Saya membayangkan jika 4,5 T itu dibelikan cendol yang harga segelasnya Rp. 5000, maka kita akan mendapatkan 900.000.000 gelas cendol. Jika isi segelas cendol itu seperti sebotol air mineral kecil, 330 ml, maka kita akan mendapatkan 297.000.000.000 ml atau 297.000.000 liter cendol.

Ini bisa dipakai untuk menenggelamkan rumah-rumah mewah para pembajak itu, sekaligus memberantas mereka. Mereka bisa mati kelelep cendol, lubang hidungnya disesaki cendol sehingga tak bisa bernapas lagi.

Bahkan dengan cendol sebanyak itu, Monas setinggi 132 meter pun bisa tenggelam. Puncak Monas yang berbentuk jilat api berukuran tinggi 14 meter, dengan diameter 6 meter dan berat 14,5 ton, berlapis emas 35 kg, juga ikut tenggelam. Jilat api di puncak Monas berwarna kuning emas itu adalah simbol semangat perjuangan rakyat indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Jilat api itu juga bermakna api nan tak kunjung padam, agar bangsa Indonesia selalu memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa.

Jika pembajak tidak bisa diberantas hingga ke akar-akarnya, cepat atau lambat, semangat perjuangan menciptakan karya-karya hebat oleh anak-anak bangsa negeri ini pasti akan surut. Orang-orang hebat yang terlahir di negeri ini akan memilih berkarya di negara lain yang lebih menghargai hak cipta. Yang lebih mengapresiasi hasil olah pikir, kecerdasan, kemampuan dan olah karya mereka. Lalu kita pun berteriak menyesalinya. Mengapa orang-orang hebat negeri ini lebih memilih berkarya di negeri orang, dan bersinar terang di sana, ketimbang di negeri sendiri?

Semestinya kita sadari bersama, jawabannya sederhana, karena mereka tidak dihargai di negerinya sendiri.

Merdeka itu tak cuma terbebas dari penindasan, penghisapan dan pembajakan kekayaan negeri ini dari bangsa lain. Tetapi juga dari warga bangsa sendiri. Merdeka bukan berarti bebas membajak!!!

Dirgahayu Negeriku, I.N.D.O.N.E.S.I.A.