Angels and Airwaves: Sisi Lain Tom DeLonge

Music Selasa, 14/8/2012 15:25

Rating : ****

Lagu yang bertempo dinamis, lambat kemudian cepat dan kembali lambat, efek suara ala ruang angkasa (space) hingga sound-sound effect robotik serta lirik yang ringan, ya itulah band rock alternatif Angels and Airwaves. Grup musik asal San Diego, California, Amerika Serikat ini dibentuk pada 2005 silam.

Angels and Airwaves sering disingkat AVA, dimotori oleh mantan gitaris dan vokalis band punk rock era 90-an Blink 182, Tom DeLonge. Sejak awal terbentuk hingga sekarang, AVA sudah mengalami perubahan formasi personelnya. Semula, AVA digawangi oleh Tom DeLonge sebagai vokalis dan gitaris, David Kennedy gitaris, Ryan Sinn bassis, dan Adam "Atom" Willard pada drum.

Kini, Ryan Sinn dan Atom Willard hengkang. Ryan Sinn resmi hengkang dari AVA pada 2007 tanpa alasan jelas. Kemudian posisinya digantikan oleh Matt Wachter dari band beraliran Emo 30 Second To Mars. Bergabungnya Matt di AVA sekaligus memberi warna baru bagi musik mereka. Hal itu terlihat dari lagu-lagu di album pertama dan kedua saat masih menggandeng bassis Ryan Sinn dibanding dengan dua album berikutnya saat sudah meminang Matt Wachter.   

Sementara itu Atom Willard yang dulunya drummer band The Offspring hengkang setelah album keempat AVA, Love: Part Two yang dirilis tahun silam rampung. Album tersebut sekaligus sebagai soundtrack film Love yang melengkapi film terdahulunya Start The Machine. Posisi Atom Willard kemudian diganti oleh Ilan Rubin untuk mengisi kekosongan di bangku drummer AVA.

Terbentuknya band Angels and Airwaves ini boleh dibilang unik. Sebab para anggotanya adalah mantan personel di band rock besar lainnya. Seperti sang leader Tom DeLonge. Dia adalah mantan gitaris dan vokalis band Blink 182 dan Box Car racer. Kemudian David Kennedy juga mantan gitaris dari band Box Car Racer bersama Tom. Matt Wachter adalah eks-bassis 30 Second To Mars, dan Ilan Rubin dari band Nine Inch Nails.

..para anggotanya adalah mantan personel di band rock besar..

Album pertama AVA bertajuk We Don't Need To Whisper yang dirilis pada 2006 silam. Di album tersebut, single yang menjadi jagoan mereka adalah The Adventure. Single tersebut sekaligus menjadi awal Thomas Matthew Delonge Jr kembali berkiprah di dunia musik bersama band baru dan aliran musik yang baru serta lebih segar dibanding dua band yang dinaunginya sebelum AVA.

Memang jika kita dengarkan full satu album AVA yang mana saja, album pertama, kedua, ketiga, atau keempat salah satunya sebanyak satu kali, pasti bakal terasa aneh dan asing di telinga. Namun jika sudah mendengar kali kedua, ketiga dan seterusnya, pasti bakal ada beberapa lagu yang menjadi favorit kamu dan sering kamu putar.

Di The Adventure, Tom DeLonge Cs membawakan suatu nuansa musik yang berbeda dan belum pernah ada sebelumnya. Temponya mengalir tak terlalu cepat namun tidak lambat. Lagu The Adventure-lah yang membawa AVA memulai "petualangan" mereka dengan gaya baru.

Jika kita mendengar The Adventure, suara Tom mengalami perubahan


Ingat band Punk Rock Blink 182? nah, di situ suara Tom cempreng alias melengking. Coba saja dengarkan album Blink 182 yang paling meledak Enema of The State. Dari album itu dengarkan satu lagu All The Small Things atau Alien Exist. Kemudian saat Blink 182 sempat bubar 2005, Tom membuat band Box Car Racer.

Di Box Car Racer suara Tom juga mengalami perubahan menjadi lebih berat dengan serak-serak. Namun begitu warna musiknya masih sedikit menyerempet ke punk rock semasa dia di Blink 182.

Di Box Car Racer, perubahan suara Tom bisa didengarkan di lagu There Is atau I Feel So. Box Car Racer hanya berhasil merilis sebuah album self titled pada 2002. Kemudian perubahan suara Tom kembali terjadi saat membuat band ketiganya Angels and Airwaves. Suara Tom menjadi lebih dewasa dan tidak se-cempreng dulu.

Di sinilah kedewasaan Tom dalam bermusik terlihat

Mungkin hal ini terjadi karena Tom menyesuaikan dengan jenis musik yang diusung di bandnya. Namun begitu, AVA yang semula hanya proyek sampingan Tom berubah menjadi proyek utamanya dalam berkarya. Tom nyaman di AVA. Fokus dan konsentrasinya tercurah di band yang hingga kini sudah memiliki empat album itu. Keempat album AVA adalah We Don't Need To Whisper (2006), I-Empire (2007), Love (2010), dan Love: Part Two (2011).

Di sinilah kedewasaan Tom dalam bermusik terlihat. Mulai dari perubahan lirik hingga penampilan dan konsep video klipnya. Sedikit kembali ke masa lalu, di Blink 182, video klip trio punk rock itu tak jauh dari kesan lucu, konyol, ngocol, dan tak jarang para personelnya bertelanjang ria.

Seperti di video klip What's My Age Again. Tak cuma itu, lirik di Blink 182 juga jorok dan nakal khas anak muda yang sle'ngean. >>>

Berbeda dengan di AVA dengan lirik yang lebih dewasa bercerita tentang cinta yang benar, kehidupan, dan tentang ruang angkasa. Ketika lagu bertema cinta, seperti biasa, Tom Cs mengemas musik dan liriknya tidak lebay, mellow, galau, dan terkesan lembek mendayu-dayu, tapi tetap dengan ciri khasnya. Video klip AVA pun jauh dari mengada-ada, terkesan hi-tech dan full efek audio dan visual alias canggih. Bahkan saat perilisan video klip dari album Love; Anxiety, Tom seperti mencurahkan segala emosi, sisi lain, dan hasrat bermusiknya yang amat berbeda dari saat di dua band sebelumnya.

Tom mencurahkan segala emosi, sisi lain, dan hasrat bermusik yang amat berbeda

Maklum, hal itu bisa jadi karena Tom sudah berkeluarga serta masuk usia kepala 3 alias berusia 30 tahunan. Dia berubah total. Rambutnya tak lagi poni lempar alias polem dan acak-acakan seperti semasa dia di Blink 182 dan Box Car Racer. Rambut Tom kini tertata rapi, pendek. Dia terlihat gemuk di pipi dan badan khas bapak-bapak.

Mungkin agak berlebihan kalau kita bilang video klip Blink 182 album Neighborhoods (2011) yang kali pertama dirilis sejak mereka bubar dan kembali reuni Up All Night dibandingkan dengan video klip AVA-Anxiety lebih bagus Anxiety. Betapa tidak? gereget Blink 182 sekembalinya Tom, Mark, dan Travis di video klip Up All Night seperti tidak membuat wow atau lucu. Sedangkan di Anxiety, orang yang melihat juga setuju kalau video klipnya keren dan berbeda.

Ditambah lagi, setiap Tom tampil bersama Blink 182, dia selalu memakai gitar kesayangan yang menjadi khasnya Gibson dengan garis yang menjadi baret lurus dari fret hingga ke body gitar. Gitar itu dipakai Tom sejak dia di AVA. Mungkin dia ngeband bareng Blink 182, sembari promo AVA atau ya memang sudah nyaman dengan gitarnya itu. Terlebih Gibson mendesain gitar khusus itu dengan nama Gibson Tom DeLonge Signature ES-333.


Banyak nada yang dihasilkan AVA lewat petikan gitar Tom dan peran serta para personel band Angels and Airwaves lainnya. Sehingga nama mereka makin diperhitungkan di dunia musik dunia. Selain cita rasa musik, warna, dan lirik lagu AVA menjadi pembicaraan banyak orang, lambang-lambang yang biasa mereka pakai, Freemason pun demikian. Menuai pro dan kontra.

Lambang Freemason menjadi perdebatan oleh para penggemarnya, pro dan kontra..

Lambang Freemason menjadi perdebatan oleh para penggemarnya. Banyak yang menyangka AVA menganut aliran iluminati dari Yahudi karena lambang freemason yang mereka gunakan. Freemason adalah sebuah Freemasonry (bahasa Inggris) atau Vrijmetselarij (bahasa Belanda) adalah sebuah organisasi persaudaraan internasional.

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti "tukang-tukang bangunan yang merdeka". Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.

Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksud Freemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.

Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi (Islam, Kristen, Budha, Hindu dan semua agama kecuali Jews atau Yahudi).


Namun terlepas dari sejarah itu, kembali lagi ke para pendengarnya. Kalau tujuannya hanya untuk menikmati musik, tak perlu memusingkan hal itu. Tergantung pola pikir kita menyikapinya seperti apa. Sebab bisa saja, AVA hanya sekedar "gaya-gayaan" dengan lambang tersebut tanpa maksud lain. Karena menurut mereka lambang itu keren, sehingga mereka kadang mereka sematkan di busana mereka. Kebebasan bermusik dan berekspresi adalah yang utama untuk menghasilkan karya.

Ada pula yang bilang lirik AVA mengarah ke dunia baru seperti ajaran iluminati. Untuk melihat hal ini, bisa dilihat di lirik lagu The Moon Atomic, "..The moon you felt, it has no side..
That's dark like hell, or safe from light
Just blown apart, by wind from stars
With white dust tides to pull on ours.."

Mengenai lirik tersebut Tom bercerita tentang pandangan orang mengenai rembulan yang memiliki sisi gelap. Padahal sisi gelap di bulan itu tidak ada. Yang ada adalah bagian yang tak tersinari matahari karena berotasi mengelilingi bumi. Hmm.. kembali lagi ke pendengar, lagu-lagu yang ditawarkan AVA enak didengar dan nyaman di telinga.

Ada lagu yang slow alias bertempo lambat, sedang, hingga cepat dan menyemangati. Untuk lagu bertempo lambat bisa disimak single AVA "All That We Are" dari album keempat Love Part Two. Tak sedikit para penggemar AVA membuat video klip sendiri dan menggunggahnya di situs berbagi video Youtube. Salah satu video klip AVA yang menyemangati buatan dari seorang fans yang diunggah ke Youtube bertajuk "Epic Holiday". Untuk melihat video klipnya silahkan klik di sini.

(cumicumi@Bonifacius Jaka)

blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Jumat, 17/5/2013 14:56

Inggrid Kansil dituding selingkuh dengan anak tirinya sendiri. Tapi dengan tegas istri Syarief Hasan itu membantah. Sejauh ini rumah tangga…

 
 
more
Review cumicumi.com on alexa.com