Lady Gaga : Penyanyi Kontroversi

Music Kamis, 10/5/2012 14:54

Rating : ****

Lady Gaga, tak pernah jauh dari aroma kontroversi. Konsernya di Jakarta, 3 Juni mendatang juga disayat beragam protes dari berbagai pihak.  Di negara lain pun, setali tiga uang, Gaga juga dikejar-kejar protes. Apa yang salah dari Gaga? Adalah album Born This Way ( 2011), yang membuat Gaga seperti jadi pesakitan. Di mana-mana, orang menggunjing dirinya. Suara-suara sumbang terdengar di  separuh planet bumi ini, mungkin juga lebih. Tapi anehnya, album Gaga tersebut, tetap diburu para penikmatnya.

Di Indonesia sendiri, album Born This Way , lumayan dikenal. Karena itulah, promotor lokal berani memanggungkan Gaga ke Indonesia. Tapi Gaga tak bisa jauh-jauh dari protes, karena rencana konsernya di Jakarta, juga diterpa pro dan kontra. Sebelumnya, Korea Selatan bersikap tegas dengan menolak konser Gaga di negerinya, sebulan lalu. Para aktivis di Negeri Ginseng tersebut, menganggap Gaga menyebarkan  ajakan budaya seks tak lazim, seperti termuat dalam lirik lagu Born This Way, di mana Gaga membela pecinta sesama jenis.

‘Daftar dosa’ Gaga makin bertambah, dengan  penampilannya yang dianggap vulgar. Alasannya, selain berbusana ketat dan memperlihatkan aurat, gerakan Gaga di panggung sarat dengan erotisme.

Bunglon


Sejak awal karirnya di tahun 2008, Lady Gaga kenyang dicibir. Wanita berusia 28 tahun ini, bahkan dicap bunglon, karena kerap meniru vokal penyanyi lain. Seburuk itukah Gaga?

Penyanyi bernama asli Stefani Joanne Germanotta ini, sebenarnya bukan sosok penyanyi aji mumpung. Pasalnya, jauh sebelum bersolo karir, Gaga sudah banyak menulis lagu.

Karya-karya lagu Gaga, dinyanyikan banyak biduan terkenal di antaranya: Pussycat Dolls, Britney Spears, New Kid On The Block, serta Akon. Sayang, ketika ia menyanyi solo, Gaga  malah diterjang tudingan sebagai bunglon.

Di album ‘The Fame Monster’ ( 2009), Gaga kena tikam kritik kencang. Muasalnya, lagu Just Dance, dianggap mengekor warna musik Ace of The Base yang kondang di era-80an.

Juga di lagu Alejandro, ia dianggap meniru vokal Madonna, karena Gaga menyanyikan lagu ini, seperti Madonna menyanyikan La Isla Bonita.

Anehnya, meski dicap bunglon, publik pecinta musik justru berduyun-duyun membeli cakram rekamannya. Sebuah kondisi yang aneh dan bertolak belakang.

Sebab itu, ‘si bunglon’ tenang-tenang saja. Toh, ia hanya menyanyi dan juri paling sahih adalah pendengar. Begitulah…..

Rezeki Queen

Lady Gaga, lahir di New York, 28 Maret 1986. Ia bukan anak miskin, karena kedua orangtuanya (Joseph Germanotta dan Cynthia) adalah pengusaha.

Sejak kecil Gaga mencintai musik. Bahkan di usia empat tahun, ia sudah mahir memainkan piano. Dan, di usia 13 tahun, Gaga menciptakan lagu.

Saat kuliah di New York University, Gaga makin tak tahan untuk menyanyi dan mencipta lagu. Ia memutuskan keluar dari bangku kuliah, dan fokus bergumul di dunia musik.

Apa yang dilakukan Gaga ini, ditentang sang ayah. Tapi Gaga, berhasil melunakkan hati sang ayah dengan kesepakatan perjanjian. Yakni, apabila Gaga gagal di musik, maka ia harus kembali ke bangku kuliah.

Sang ayah, kemudian menyewakan satu apartemen buat putrinya itu. Gaga tinggal sendirian di sana, dan terus mencipta lagu. Kelak, sang ayah tak bisa menagih janji sang putri, karena Gaga sukses besar di jalur musik.

 Dari apartemen ini, Gaga merintis band bernama Stefani Germanotta Band (SGBand). Band ini memainkan berbagai lagu rock klasik seperti lagu Led Zeppelin, mereka menggelandang dari satu bar ke bar lainnya.

 Nasib baik mulai menghampiri Gaga, pada Juni 2006, saat ia bersama bandnya tampil di acara Songwriters Hall of Fame di The Cutting Room, New York.  Di antara banyaknya penonton, terselip sosok Wendy Starland, seorang penyanyi yang juga model. Wendy mewakili produser Rob Fusari, untuk mencari penyanyi wanita berbakat.

Gaga akhirnya bertemu Fusari.  Sang produser rekaman ini, tertarik dengan corak vokal Gaga, yang mengingatkan Fusari pada mendiang Freddie Mercury, vokalis grup musik Inggris,  Queen.

Saat itu, Gaga masih bernama Stefani. Setiap kali ia datang ke studio menemui Fusari, sang produser  selalu menyanyikan lagu Radio Ga Ga, salah satu lagu populer Queen.

Suatu kali, Fusari mengirim SMS ke Stefani  untuk menginformasikan suatu hal. Entah kenapa, kalimat Radio Gaga yang ingin ditulisnya malah berubah bunyi menjadi Lady Gaga.

Membaca itu,  Stefani terperanjat bercampur senang. Ia seperti menemukan nama panggung untuk dirinya. Lalu ia membalas SMS  Fusari.  "Itu dia (Lady Gaga). Jangan panggil aku Stefani lagi," tulisnya. Sejak saat itulah,  nama Stefani menjadi Lady Gaga.


Entertainer Tulen

Sukses Gaga bukan datang dari langit.  Tapi perjuangan dan konsistensinya sebagai entertainer, yang membuat wanita ini sukses mendunia.

"I was always an entertainer”.

Begitulah coretan kata, yang  pernah ditulis Gaga di halaman mayapada. Kata-kata ini, tentunya bukan mengada-ada, tetapi realita. Gaga hanya ingin menegaskan bahwa dirinya akan terus melaju, tanpa peduli gunjingan kanan kiri. Sebuah penegasan, yang mengingatkan betapa Gaga telah melewati titik – titik konsistensi, tanpa bergeser hati dari jiwa kesenimanannya.

Titik-titik itu, sudah terlihat sejak kecil. Di mana Gaga  sering bernyanyi ditemani mini tape recorder yang dia miliki. Hits favoritnya berasal dari lagu-lagu Michael Jackson, Cyndi Lauper, Rolling Stones, dan The Beatles. Selain bernyanyi, dia juga suka menari di manapun dia berada.


Kebiasaan ini, bagi sebagian orang, tentu dianggap hobi semata. Tapi Gaga berbeda, ia justru mengolahnya hingga dewasa.

Sama halnya, kala Gaga memutuskan sebagai fashionita. Ia berani meramu penampilannya, dengan berbusana yang kadang menyempal dari kelaziman. Inilah cara Gaga mengarahkan keinginannya menjadi entertainer tulen.

Sebagai entertainer tulen, Gaga tak pernah bereaksi keras terhadap kritik. Ia juga tak membalas semua tudingan miring. Buatnya, entertainer harus siap menerima kondisi apapun, termasuk kondisi dicerca juga dihina.

Namun di balik sikap pasrah ini, Gaga melakukan serangan balik. Ia berhasil membalik situasi dengan menghasilkan karya-karya lagu, yang mampu menembus pasar musik Internasional.

 

Konsistensi Gaga berbuah manis.  Lagu-lagunya, tercatat di peringkat pertama di berbagai tangga lagu dunia, seperti  Kanada, Austria, Jerman, juga  Irlandia. Bahkan album pertamanya The Fame ( 2008),  begitu mudah menembus Billboard Top Electronic Albums Chart. Untuk penyanyi pemula, apa yang dicapai Gaga saat itu, sungguh luar biasa.

Ditambah lagi dengan dua penghargaan Grammy, membuktikan bahwa Gaga memang bertaji.

Dan,  3 Juni nanti, publik Jakarta dan pecinta Gaga di republik ini, berkesempatan menguji ketajaman taji sang penyanyi, lewat konsernya. Tapi hujan protes masih belum mereda, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Karena itu, lebih baik sabar menunggu saja.

Lantas, bagaimana kalau Gaga urung datang?   Ada baiknya, putar ulang saja, lagu-lagu Gaga sebagai obat rindu.  Nikmati alunan vokalnya dan percayalah, taji Gaga tetap terasa.  (cumicumi@Kunto)

 

blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Jumat, 24/5/2013 16:56

Syahrini tampil tak biasa. Ia memakai gaun yang terbuat dari aluminium foil. Untuk membuat gaun itu, Syahrini menggandeng perancang busana…

 
 
more
Review cumicumi.com on alexa.com