Welcome, Join Us Here

Limp Bizkit Kembali Dengan 'Gold Cobra'

Posted in : Music Tue 10 2011

Masih inget dengan demam genre Nu Metal yang sempat sangat populer pada awal tahun 1995 sampai awal dekade 2000? Tentunya selain band Korn sebagai pelopor genre tersebut, nama Limp Bizkit adalah band pertama yang terbenak dalam pikiran kalian, karena dapat dibilang, band dengan frontman kontroversial Fred Durst ini adalah sosok yang sangat erat di kait-kaitkan dengan era Nu Metal. Genre musik yang mengkolaborasi unsur metal dengan hiphop serta dibumbui lirik braggadocio (red: rap yang membual dengan belagu) yang vulgar dan konfrontasional ini pernah menjadi komoditi yang sangat laku di industri musik dunia, namun tak berlangsung lama, Nu Metal hanya menjadi trend yang numpang lewat. Perlahan-lahan band yang lahir di tengah popularitas Nu Metal pun menghilang, berubah aluran musik, atau tidak terdeteksi lagi di kehangatan radar pasar musik terkini.


Belasan tahun telah berlalu sejak masa emas Nu Metal merajalela pasar musik, dan tak pernah ada yang terpikir bahwa masih ada band yang loyal dengan genre yang sudah tak laku bahkan sampai dibenci karena telah mengkontanimasi nama baik Metal. Namun, relisnya album 'Gold Cobra' oleh Limp Bizkit membuktikan bahwa bagi vokalis Fred Durst, gitaris Wes Borland, bassist Sam Rivers, drummer John Otto, dan sampler DJ Lethal, Nu Metal bukanlah sekedar musik trend yang mereka kapitalisasi untuk mencari ketenaran. Berbeda dengan evolusi yang telah terjadi di album 'III' oleh Korn dan A Thousand Suns oleh Linkin Park, Limp Bizkit lebih memilih untuk menetap di comfort zone yang mereka kuasai yaitu...

rockin party-driven songs that embraces
violence and arrogance. 

 

Satu fakta yang pasti mengenai album 'Gold Cobra' ini adalah bahwa hasilnya memang sesuai dengan harapan semua orang, baik dari fans yang selama ini tetap setia maupun para pembenci, karena Limp Bizkit tidak pernah melepaskan image yang selama ini mereka pamerkan; Fred Durst akan tetap merasa bahwa dia adalah seorang rapper yang bertalenta, walau banyak pihak komunitas hiphop yang mentertawakan kemampuan lirik dia; Fans akan tetap merasa Limp Bizkit adalah band paling metal yang pernah ada, berlawanan dengan pendapat bahwa Limp Bizkit hanyalah sebuah band lelucon. 

Konsistensi Limp Bizkit dalam musikalitas mereka memang sangat patut diberi acungan jempol, namun mengingat labilnya pasar musik, perlu dipertanyakan dapatkah album Gold Cobra ini berkompetisi dengan trend musik yang sangat berbeda dengan jaman emas mereka.

 


Apabila kita membuang segala faktor penting yang menentukan kesuksesan sebuah album dalam pasar musik kini, sebetulnya album 'Gold Cobra' ini adalah karya terbaik oleh Limp Bizkit setelah album perdana '3 Dollars Bills Ya'll' mereka pada tahun 1993. Album ini tidak 'neko-neko' menggunakan perpaduan elemen terbaik dari hard rock dan hiphop. Terutama dengan kembalinya sang gitaris Wes Borland yang sangat bertalenta menyuguhkan riff-riff gitar yang catchyGold Cobra menyuguhkan dimensi yang lebih brutal dari karya-karya mereka sebelumnya. 

Dalam lagu "Shark Attack", "Get A Life" serta Single pertama "Gold Cobra"  petikan bass Sam Rivers dan detakan drum John Otto yang lebih funky dalam album ini memberikan unsur musikalitas yang sangat mengajak tubuh untuk bergoyang dan mengacungkan jari tengah ke udara. Namun, sayang sekali diluar talenta para personil yang sudah berkembang...

vokalis Fred Durst masih terjebak
dengan lirik cliche dan tak ber-substansial
yang terlalu sering ia gunakan.

Tentunya kata seperti "f**k" tidak lupa ia gunakan untuk setiap lagu, dan tidak ada amanah signfikan yang ia lontarkan selain memberi pesan "F**K YOU" untuk semua pembenci dia.

If this was 1999, album ini pasti sangat laku dan diputar di semua radio dan program televisi musik. Sayangnya masa mereka sudah lewat, dan banyak pihak yang sudah muak dengan lirik arogansi yang terus di ekspresikan oleh Fred Durst. (cumicumi@wish)

 

;

blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Lega. Mungkin kata tersebut cocok untuk menggambarkan perasaan Anang Hermansyah dan Ashanty yang  telah resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah…

 
 
more