Welcome, Join Us Here

sex and health : Smaragama Bab IV:Memanah Rembulan

Posted in : Smaragama Thu 12 2011

Memanah Rembulan

Bisa berbicara seperti halnya manusia,
hanyalah salah satu keajaiban Kitab Smaragama. 
Dan sesungguhnya masih tak terhingga banyaknya 
keajaiban dan kegaiban yang dapat dilakukannya, 
antara lain bisa mengubah cinta menjadi mantra 
yang dapat menyembuhkan segala macam duka, 
juga bisa menyenandungkan lagu pelipur lara, 
bahkan bisa menjelma menjadi Smaradahana, 
yakni menggaibkan diri ke dalam titik api asmara, 
yang mampu membakar jiwa siapa saja.

Namun keajaiban sekaligus kegaiban,
yang luar biasa dan sangat mencengangkan,
adalah kesanggupannya mewujudkan
kata-kata dan wejangan yang ia ucapkan,
dalam bentuk hologram yang menakjubkan,
dan jauh lebih luar biasa dibanding sulapan
yang cuma sekadar memperdaya akal pikiran
dengan ilusi yang dikemas kepura-puraan.

Dan perwujudan hologram itu terjadi,
di kamar, di depan mata Sangaji dan Salindri
yang pada malam itu, menjelang dini hari,
baru saja menyempurnakan percintaan suci
dengan saling menerima dan saling memberi
keperjakaan dan keperawanan sebagai bukti
kesetiaan menempuh jalan hidup terpuji,
dan kesanggupan untuk tidak menodai
nilai hakiki cinta sejati.

Sangaji dan Salindri diam tercekam,
berbaring di ranjang, menonton ulah hologram
perempuan dan lelaki serupa Eva dan Adam
sedang bercumbu mesra bertilam alam,
di bawah langit malam bertabur ilham,
dimanja rembulan yang redup temaram.

Akan halnya Kitab Smaragama,
dengan suara jernih dan teduh berkata: 

"Sepasang hologram itu menjelma
demi membuka sebuah rahasia seni bercinta 
dan menerjemahkan seluk-beluknya
dalam bentuk gerakan dan tindakan nyata 
agar kalian dapat melihatnya dengan mata,
dan mengerti bagaimana melakukannya, 
seperti halnya bila suara dan kata-kata
kalian dengarkan dengan telinga
sebelum cahaya akal budi kalian berdua 
menangkap dan memahami maknanya. 

Kini saksikan dengan seksama, 
apa saja yang dilakukan mereka berdua, 
dan bagaimana mereka melakukannya.

Perlu juga kalian dengarkan 
Wejangan berikut rincian penjelasan 
tentang keindahan dalam kenikmatan 
dan kenikmatan di dalam keindahan
seni bercinta Memanah Rembulan." 

Salindri dan Sangaji membisu, 
lantaran masih memendam rasa malu, 
sekilas saling lirik, tersipu-sipu,
lalu pandangan mereka kembali tertuju 
pada hologram yang mulai bercumbu,
dan bersamaan dengan itu
Kitab Smaragama berkata syahdu: 

"Mereka hologram pengantin baru,
perjaka dan perawan yang masih lugu." 

Sangaji dan Salindri mengiyakan, 
sambil tetap memusatkan perhatian, 
dan mencatatnya di dalam ingatan 
posisi dan gerak penuh kelembutan, 
yakni seni bercinta yang dinamakan: 

"Memanah Rembulan"

Di mata Sangaji dan Salindri, 
hologram itu serupa sepasang dewa-dewi 
yang melayang mengarungi langit mimpi, 
menari-nari sambil saling melucuti 
pakaian dan menjatuhkannya ke bumi.

Semesta seakan dimangsa sunyi 
ketika hologram Eva membaringkan diri 
perlahan-lahan mengambil posisi
diam telentang memandang sang suami, 
dengan cinta yang memancar dari hati, 
dengan kesabaran dan kerelaan menanti 
dengan kepasrahan untuk digauli.

Dalam temaram sinar rembulan 
hologram Adam bergerak pelan-pelan 
berbaring di sisi Eva yang menantikan 
peristiwa yang sudah lama dirindukan. 

Tatkala Adam mengulurkan jemari 
menyentuh rambut, pelipis, mengusap pipi, 
kedua mata Eva terpejam menahan geli. 

 

Dan Adam menundukkan wajah 
melumat lembut bibir Eva yang basah 
dan ketika Eva menggeliat mendesah 
Adam lekas menyelinapkan ujung lidah, 
sementara jemarinya bergerak merambah 
mengembarai lekuk-liku seluruh wilayah 
yang dapat dijangkau dan bisa dijamah, 
juga mendaki bukit yang penuh melimpah, 
menyusuri penjuru ngarai dan lembah, 
mengantarkan Eva ke puncak gairah,
di pintu birahi yang rengkah merekah, 
dan bila lorong kerinduan melicin basah,
itu pertanda Eva sepenuhnya pasrah. 

Maka Kitab Smaragama berkata: 

"Bagi yang baru pertama kali
melakukan hubungan intim suami istri 
hendaknya mengetahui wejangan ini. 

Satu, tak perlu terburu-buru,
walau seakan hangus terbakar nafsu, 
karena akan selalu masih cukup waktu 
untuk saling bercumbu dan menunggu 
saat yang tepat untuk menyatu.

Dua, ungkapkanlah perhatianmu, 
bisikkanlah isi hati dan kasih sayangmu, 
agar tercipta rasa aman di dalam kalbu, 
karena siapapun tentu tahu
saat pertama kali mengalami hal itu
selalu gugup dan bahkan ragu.

Tiga, lakukanlah pelan-pelan,
dan pastikan kalian memang menginginkan, 
namun demikian jangan langsung menekan, 
lakukanlah dengan sepenuh kelembutan. 

Empat, pilihlah posisi yang wajar, 
karena yang wajar itu nyaman, dan lancar 
karena yang wajar itu aman, dan benar. 

Lima, demi cinta dan kehidupan 
bukakanlah pintu menuju lorong kerinduan, 
agar suamimu tahu bahwa ia telah diijinkan 
menanamkan benih kehidupan.
Dan suami yang penuh pengertian
akan selalu dan sangat memperhatikan
hasrat sang istri yang tak terucapkan. 
Suami yang bijak dan berperasaan
tentu juga mampu membedakan
reaksi yang muncul dari kenikmatan 
dengan ekspresi yang mencerminkan 
keterpaksaan menahan kepedihan"

Demikian kata Kitab Smaragama, 
begitu pula yang dilakukan Adam dan Eva.

 
blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Lega. Mungkin kata tersebut cocok untuk menggambarkan perasaan Anang Hermansyah dan Ashanty yang  telah resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah…

 
 
more