Ini Pengorbanan Berat Christine Hakim Sebagai Ibunda Kartini

Ini Pengorbanan Berat Christine Hakim Sebagai Ibunda Kartini

Meskipun sudah sering memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata, namun Christine Hakim mengaku tidak mudah untuk memerankan Ngasirah, ibunda Raden Ajeng Kartini. Bahkan, Christine rela tinggal di set bangunan yang memang dibuat khusus untuk film Kartini beberapa hari sebelum syuting.

Bukan hanya tidur di lokasi syuting, Christine juga ikut membersihkan rumah tersebut dan berpakaian selayaknya Ngasirah, padahal kamera tak sedang merekam adegannya.

christine-hakim-3.jpg

“Yang tersulit ketika memerankan Ngasirah adalah kompleksitas beliau sebagai anak seorang Kyai, lalu menjadi istri Bupati yang berdarah biru, walaupun sebagai istri pertama. Jadi sulit bagaimana menentukan di satu pihak, dia bukan pembantu, di lain pihak, status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dia jalani agak lebih tinggi sedikit dari pembantu,” ujar Christine, dalam rilis persnya, Rabu (15/3).

BACA JUGA, Ini Tantangan Besar Tiga Pemain Film Kartini

Persiapan Christine untuk film Kartini memang tidak main-main. Keseriusan Christine menyiapkan peran Ngasirah terlihat dari intensitas yang dijalaninya. Tak sekadar survei, Christine mengunjungi kota Jepara, Jawa Tengah, untuk melakukan napak tilas sejarah keluarga Kartini.

christine-hakim-1.jpg

“Membuat film sejarah itu secara tidak langsung seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Saya punya tanggung jawab moral yang lebih besar, jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini, dan kelurga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya, saya berusaha juga menapak tilas batin Ngasirah, dan terutama Kartini,” terangnya.

“Saya mencoba menganalisa Ngasirah dengan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya. Bagaimana Sosroningrat di mata saudara-saudaranya, di mata Bupati yang lain, di mata Belanda. Kemudian bagaimana Kartini, Kardinah, Kartono dalam kehidupan kesehariannya,” pungkasnya. O fie

SHARE THIS NEWS

226