Cumicumi, #1 Video Entertainment Portal

Rencana Pengesahan RKUHP, Ketua AJI Bilang Belum Saatnya

CUMI XTRA
Rencana Pengesahan RKUHP, Ketua AJI Bilang Belum Saatnya

Rancangan KUHP (RKUHP) yang masih berproses di DPR RI ditentang oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Menurut AJI, belum saatnya bicara soal revisi dilakukan, karena dapat mengancam kebebasan pers di Indonesia.

rkuhp2.jpg

“Kalau kita melihat tren DPR dan kecenderungan pemerintah, saya kira kita belum saatnya bicara revisi Undang Undang Pers. Saya kira posisi Undang Undang Pers sejauh ini mengakomodasi prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan pers yang dibutuhkan untuk meningkatkan demokrasi. Karena kita juga tidak bisa menjamin, misalnya itu diubah akan menjadi lebih baik atau buruk, kan itu yang jadi masalah,” terang Ketua AJI Ahmad Nurhasim, di Kantor LBH Pers, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (13/2).

Sementara itu, Wenseslaus Manggut, Ketua AMSI (Asosiasi Media Cyber Indonesia), justru minta bantuan pemerintah juga perusahaan teknologi, untuk mengatur regulasi pengguna media sosial, sehingga berita tang sifatnya hoax dan hate speech bisa ditekan penyebarannya.

BACA JUGA, Rencana Pengesahan RKUHP, Nikita Mirzani Antara Setuju dan Tidak

“Jadi tugas pemerintah, tugas banyak orang saya kira, juga tugas perusahaan teknologi untuk memberikan ketentuan. Kalau anda pakai media sosial, apa sih yang boleh dan tidak boleh? Dan yang kedua, kalau apa yang terjadi di media sosial, hate speech, hoax, segala macam, solusi yang dipakai penegakan hukum, orang banyak ditangkap, bikin posting apa ditangkap, orang merasa terhina ditangkap. Sementara literasi kita di media sosial sangat lemah. Para penggunanya belum paham betul regulasi kalau dia ngomong efeknya apa,” jelas Wenseslaus Manggut ditemui di tempat yang sama.

rkuhp1.jpg

“Bisa nggak misalnya pemerintah memimpi solusi yang sifatnya teknologi. Barang ini menyebar di internet kalau misal hoax beredar, di situ orang posting dengan cara apa, hoax ditekan reach-nya. Teman2-temantahu kan, kalau di media sosial, hoax atau hate speech jadi viral kalau di share, ya nggak? Kalau fitur share-nya nggak ada, kan nggak tahu itu barang. Nah, Facebook atau media sosial, dia bisa mengatur reach-nya. Kalau barang itu hoax, mestinya bisa ditekan dong reach-nya,” tandas Wenseslaus Manggut. O ian/vin