'The Thing' Prequel atau Remake?

Fri 01 2012

Memang sejak pertama kali diumumkan oleh Hollywood bahwa tahun 2011 akan dihadirkan dengan garapan baru film 'The Thing', banyak yang terkecoh mengira bahwa versi terbaru ini adalah sebuah prequel dari karya sutradara John Carpenter tahun 1982 dengan judul yang sama. Ternyata, sayangnya film ini tidak jauh berbeda dari versi orisinilnya. Walau memang mempunyai sentuhan visual yang sedikit modern, namun skrip alur cerita dari adegan ke adegan mempunyai persamaan yang terlalu similar sehingga sangat mudah untuk menganggap film ini hanyalah sekedar sebuah remake dari versi tahun 1982 dengan imajinasi yang kurang terlalu kreatif dan ending yang mudah ditebak.

Tapi apakah ini berarti 'The Thing' versi 2011 adalah film yang kurang layak untuk ditonton? Tentunya tidak. Walau versi 2011 ini mirip dengan versi 1982, namung dengan premis yang cukup kuat dan rancangan CGI monster yang terasa lebih efektif dibandingkan dengan orisinilnya, 'The Thing' versi 2011 cukup menghibur untuk mengisi waktu anda yang sedang ingin ditakuti-takuti.


Sinopsis
Plot cerita film ini membawa kita kepada tahun 1982 di Antartika, dimana seorang ilmuwan paleontologi bernama Kate Lloyd (Mary Elizabeth Winstead, Scott Pilgrim VS. The World) di rekrut untuk mencari dan menganalisa penemuan luar biasa yang diperkirakan adalah fosil makhluk alien yang terkubur dan terbeku di dalam lapisan es dan salju tebal. Kate sebetulnya takut untuk terlalu banyak 'mengutak-ngatik' fosil tersebut, namun tim inti ilmuwan berasal Norwegia yang dipimpin oleh Dr. Sander Halvorson (Ulrich Thomsen, Season of The Witch) ingin buru-buru membongkar misteri alien itu untuk mendapatkan ketenaran di dunia sains. Tak disangka, riset yang mereka lakukan justru tak sengaja membangunkan makhluk alien tersebut, dan kate mempelajari bahwa alien itu mempunyai kekuatan meniru struktur sel mangsanya hingga dapat kamuflase menjadi manusia. 

Sayangnya, penemuan Kate terlalu telat dan ia mulai menyadari bahwa di di antara mereka bukanlah lagi manusia namun alien yang meniru bentuk salah satu rekannya. Ketakutan dan paranoia mulai mengancam solidaritas mereka, dimana mereka tidak tahu siapa kah yang masih manusia, dan siapakah yang sudah 'dirasuki' oleh makhluk alien. >>>

What's wrong with this movie?
Sebetulnya, sutrdara Mathhijs van Heijningen Jr. sudah cukup melakukan garapan yang baik dalam mendaur ulang disain film ini dengan sentuhan yang cukup segar, namun, sayangnya penulis Eric Heisserer (red: yang juga menulis remake film Nightmare of Elm Street) kurang kreatif dalam menciptakan skrip yang unik dan berbeda dari orisinilnya. Tak hanya itu, plot development antara karakter tidak dikembangkan dengan mulus dan kompleks. Padahal, di awal film terlihat sudah terjalin yang baik pengembangan relationship antara karakter, seperti konflik antara Kate dengan Dr. Halvorson, dan ketertarikan kate kepada pilot helikopter (Joel Edgerton, Warrior). Namun setelah monster alien ini mulai 'beraksi', development yang terjalin tak lagi dilanjutkan sampai film berakhir, dan yang ditonjolkan hanyalah kekacauan di antara mereka hingga satu per satu punah terbunuh oleh sang monster alien.

Hal kedua yang tak wajar adalah pembenaran kekuatan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh monster alien tersebut. Satu kelemahan yang sangat ditekankan adalah ketidakmampuan alien untuk mengimitasi materi non-organik, contohnya seperti tambal gigi yang menjadi poin yang sangat krusial dalam menentukan siapakah yang alien atau tidak dalam konflik plot film ini. Namun sayangnya, sang penulis tidak sekalian memikirkan bagaimana monster alien dapat mengimitasi baju yang dipakai olehnya, padahal seharusnya sudah hancur lebur ketika alien tersebut menyerang, membunuh, dan mengimitasi mangsanya. 

Cukup aneh kan yah? Coba disimak baik-baik  bila sempat menonton film ini yang kini masih tayang di bioskop. (red: atau alternatif lainnya di rumah... you know lah... haha)
 




Kalau bicara tentang casting yang terpilih dalam film ini, mereka memang dapat menghidupkan karakter masing-masing dengan baik. Tidak ada kekurangan yang patut untuk di 'hajar' oleh kami ataupun pengulas lainnya. Namun harus kembali lagi ke masalah skrip, dimana kesalahannya adalah pengarahan karakter yang dilakukan oleh sutradara dan penulis 'The Thing' versi 2011 ini. 

Kenapa penggarapan karakternya, baik protagonis dan antagonis, tidak terlalu jauh dengan orisinilnya? Padahal, bukankah itu intinya dari pilihan untuk membuat remake sebuah film? Joel Edgerton dn Adewale Akinnuoye-Agjabe sangat persis dengan karakter yang dimainkan oleh Kurt Russell dan Keith davis dalam film orisinilnya. Dr. Halvorson juga sangat sama dengan Dr. Blair, dan Adam yang diperankan Eric Christian sama pengecutnya (red: bahkan sama kurusnya) dengan Windows yang diperankan Thomas G. Waites. Sayangnya hal ini tak dapa terjawab, karena pertanyaan apakah film ini adalah 'remake' atau sebuah 'prequel' pun tidak jelas.

Overall, kalau belum pernah menonton versi orisinilnya 'The Thing' tahun 1982 oleh John Carpenter, maka film ini sangat cocok untuk kamu karena ceritanya masih sangat fresh untuk dicerna. Mungkin juga setelah menonton ini kamu bisa mennyiapkan waktu untuk menonton yang orisinalnya juga sekedar untuk perbandingan. Buat yang udah nonton, ya versi 2011 ini lumayan oke lah dan semoga kalian tidak banyak berharap untuk mendapatkan suguhan yang baru. (cumicumi@wish)

Directors:

Writers: Eric Heisserer

Stars: Adewale Akinnuoye-Agbaje, Eric Christian Olsen, Joel Edgerton, Mary Elizabeth Winstead, Ulrich Thomsen

Category: Thriller, Sci-Fi

blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Bernama asli Amanina Afiqah Ibrahim, bocah cilik kelahiran 6 Januari 2006 itu adalah anak dari pasangan Erwin Andri Ibrahim dan…

 
 
more

Videos

Mengintip Indah Dewi Pertiwi latihan sebelum konser Mengintip Indah Dewi Pertiwi latihan sebelum konser

Indah Dewi Pertiwi benar-benar total dalam menjalankan karirnya sebagai penyanyi. Bahkan ia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk peluncuran album keduanya.

More