Welcome, Join Us Here

'The Help' Mengenang Rasisme

Thu 12 2011

Walau kini Amerika Serikat sangat populer dipandang sebagai sebuah 'model' negara yang menjunjung tinggi keadilan merata dengan aktifnya mereka 'mengatur' kebijakan negara lain, namun tetap tidak terlupakan bahwa jaman dahulu Amerika Serikat adalah negara yang sangat mendiskriminasi ras terutama terhadap orang berkulit hitam. Sejak pertama kali koloni mulai meramaikan benua Amerika, bangsa Afrika telah diperbudakan oleh kaum berkulit putih selama ratusan tahun. Dan walau Presiden Abraham Lincoln sudah menghapuskan perbudakan pada tahun 1863, namun kaum berkulit hitam tetap mendapatkan perlakukan prejudice yang melarang mereka untuk membaur dengan kaum mayoritas berkulit putih. Sejarah yang gelap ini tentunya sangat menyakitkan bagi warga berkulit hitam di Amerika, namun walau tetap diperingatkan dan diingatkan dalam buku-buku sejarah, bangsa Amerika Serikat terutama yang berkulit putih seakan sangat berusaha untuk melupakan sejarah yang kelam ini. 

'The Help' garapan Tate Taylor adalah sebuah karya film yang mengingatkan kita, terutama bangsa Amerika Serikat, akan sejarah ini. Selain sebagai sutradara, Taylor juga adalah scripwriter yang mengadaptasi cerita ini dari novel yang ditulis oleh Kathryn Stockett dengan judul yang sama.
 


"Change begins with a whisper"

Uniknya, sebelum novel ini berhasil menggebrak pasar sebagai best-seller, ternyata 'The Help' sempat ditolak oleh sekitar 60 penerbit buku karena isi kontennya yang sangat sensitif. Namun ternyata setelah di terbit, novel ini berhasil menjual lebih dari 3 juta kopi dan kini diaptasi ke layar lebar yang juga mendapatkan tanggapan yang sangat positif dari para pecinta film. >>>

Salah satu faktor yang membuat buku dan film ini sangat sukses adalah cara penyampaiannya mengenai ketidakadilan sosial yang tidak dilakukan secara general atau cliche maupun terlalu melodrama, namun justru mengangkat hal-hal kecil, spesifik, dan sangat personal yang dibungkus dengan unsur-unsur komedi.

 


Mengambil latarbelakang era pergerakan hak asasi manusia di tahun 60an, Viola Davis (Eat Pray Love, 2010) berperan sebagai Aibileen Clark, seorang pembantu rumah tangga di daerah Mississippi. Selama bertahun-tahun dia bekerja untuk sebuah keluarga berkulit putih dan mengurus balita mereka dengan penuh kasih sayang, bahkan, lebih sayang dari orangtua balita tersebut sendiri. Namun seberapapun di memberi yang terbaik untuk balita dan keluarga tersebut, tetap saja mereka tidak memperlakukan mereka dengan ramah yang selayaknya. Aibileen hanya bisa bersabar hati terutama dengan tragedi kematian anaknya yang membuat hatinya kebal.

Berbeda dengan Aibilieen, temannya bernama Minny Jackson (Octavia Spencer) justru lebih berani memberontak apabila majikannya sudah bersikap keterlaluan. Walau berhati baik, mulut Minny tidak pernah lepas dari ucapan yang pedas namun lucu bila hatinya hendak bersikap seperti itu.

Ketika Eugenia 'Skeeter' Phelan (Emma Stone) berpulang ke kampung halamannya di Mississippi dari empat tahun kuliah di kota yang berbeda, ia merasa pandangan hidupnya sudah sangat berbeda dengan mayoritas teman-temannya dan ibunya sendiri. Jika teman-temannya lebih memilih untuk menikah muda seperti yang juga diharapkan oleh sang untuk anaknya, Skeeter justru lebih memilih untuk mengambil jalan karir menjadi seorang penulis. Berharap dapat dianggap serius oleh para pencetak buku, Skeeter memutuskan untuk menulis sebuah topik yang sangat dianggap taboo oleh masyarakat luas, terutama daerah Mississippi. Ia mencoba mendekati Aibilieen dan Minny sebagai narasumber sebuah buku yang menceritakan sisi pandang dari para pembantu berkulit hitam. Namun, mereka awalnya menolak karena takut ketahuan oleh majikannya yang merupakan teman-teman Skeeter juga.

Lagu bagaimana Skeeter dapat selesai menulis buku ini?

 


Kualitas akting oleh para pemeran utama film ini tentunya adalah salah satu pendorong yang membuat film ini mempunyai cerita yang sangat kuat. Seperti biasa Viola Davis selalu berhasil memerankan perannya dengan totalitas yang tepat. Hati yang hampa dan hidup yang sudah tak punya tujuan terlihat dengan jelas dari cara bicara dan tatapan mata karakter yang dimainkannya. 

Namun yang bersinar di film ini adalah Octavia Spencer sebagai Minnie Jackson yang masih mempunyai harga diri dan selalu mempunyai celetukan yang lucu dan sinis tentang segala hal.

Memang dalam film ini, tercermin dengan baik perbandingan dari beragam  kepribadian wanita yang berbeda dan bertolak belakang. Emma Stone sebagai Skeeter dengan natural berhasil menunjukkan seorang sosok wanita muda progresif yang bertolak belakang dengan ibunya (Allison Janney) serta sahabatnya Charlotte Phelan (Jessica Chastain) yang masih 'kuno' dengan kultur 'putih' yang rasis. Apabila Allison Janney berhasil memerankan seorang ibu yang tertekan dengan pandangan sosialita, Jessica Chastain sangat cocok berperan sebagai antagonis rasis sebagai Charlotte.>>>

 

 

 

We highly recommended everyone to watch this movie, karena walau ceritanya fiktif, namun 'The Help' dengan pintar dan akurat telah menggambarkan sejarah kondisi Amerika Serikat dengan diskriminasi dan rasisme. Ada adegan kue pie yang patut kalian nantikan dan pasti akan tertawa lebar. 'The Help' is an entertaining and very touching movie for the whole family. (cumicumi@wish)

Directors: Tate Taylor

Writers: Kathryn Stockett, Tate Taylor

Stars: Emma Stone, Octavia Spencer, Viola Davis

Category: Comedy Drama

blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Lega. Mungkin kata tersebut cocok untuk menggambarkan perasaan Anang Hermansyah dan Ashanty yang  telah resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah…

 
 
more