Star and Me : PASHALICIOUS

Kamis, 9/6/2011 08:22

Selebriti idola selalu ada di hati. Apa salahnya berbagi kisah pengalamanmu bersama selebriti. Siapa tahu bisa menginspirasi sesama. Kirim naskah, foto atau video ke alamat redaksi cumi di editorial@cumicumi.com

(1/12)

 

Cumi...
Jujur awalnya aku malu mau cerita ini ke cuminity. Apalagi aku bukan Cliquers, fans berat Band Ungu. Aku cuma pengagum Pasha, vokalisnya. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa suka sama dia. Pokoknya sejak dia diceraiin sama Okie, mantan istrinya, tiba-tiba aku jadi kesengsem sama dia. Aku ngerasa kasihan aja sama Pasha. Apa sih yang kurang dari dia? Cakep, terkenal, tanggung jawab sama keluarga.

Hmm..., pokoknya suami idola deh. Tapi nggak tahu ya kalau diam-diam ternyata Pasha suka ringan tangan alias suka mukul Okie. Tapi pasti kan ada sebabnya. Tapi ya udahlah, aku nggak mau ngomongin soal itu. Yang aku pengen cerita lebih gimana aku akhirnya ketemu idolaku, Pasha yang guanteng itu. hehehe....maaf ya, di TV aja kelihatan kalau Pasha ganteng... dan aslinya....lebih guanteng. percaya deh!
 


Pertemuan aku sama Pasha dimulai dari salah satu sahabatku yang kerja di sebuah rumah produksi. Waktu itu dia nawarin, mau nggak ketemu sama idolaku. Aku tanya siapa? Dia langsung bilang...

idola lo
siapa lagi
kalau bukan

Pasha

Waaahhh, aku langsung aja bilang iya, ngganggukin kepala. Saking senengnya aku cuma bisa bilang iya. Abis itu aku diem, bingung mikirin gimana mungkin bisa ketemu Pasha. Kalau pun pernah selama ini cuma dalam mimpi. Itu pun selalu keputus karena setiapkali mau ketemu udah kebangun lebih dulu. Huh! Aku coba tidur lagi cari mimpi itu, eh udah ganti mimpi lain. Bukannya ketemu Pasha, malah ketemu Budi Anduk! Sebel, kan?!

Kembali ke soal A'a Pasha (idiiiihhh...A'a), akhirnya diaturlah aku bisa ketemuan sama Pasha. Malam harinya aku sampai nggak bisa tidur. Bingung mikirin mau pakai baju apa, make up-nya gimana, pakai sepatu apa. >>>

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

ADUUUUH! bingung mikirinnya. beneran. Kalau cuminity jadi aku, pasti bisa ngerasain apa yang kurasain. Malam itu aku bener-bener nggak bisa tidur. sueerrr deh!

Singkatnya, pagi itu sekitar bulan Oktober 2010, aku udah siap. Buat aku, itu penampilan terkeren yang pernah aku bikin. Memang nggak ada yang baru sih, tapi rasanya dandananku udah yang paling cihuy deh.

Aku udah ngerasa yang paling cantik, setidaknya yang terbaik di depan Pasha, idolaku. Itu yang paling penting.Nah, kalau udah ketemu Pasha, aku mau ngapain ya? Meluk, nyium, ataufoto bareng? atau...

AH! semuanya buyar. Temenku sudah keburu jemput. Soal gimananya ketemu Pasha, liat nanti aja deh.Selama di mobil, biar nggak ngerasa deg-degan, aku coba ngobrol sama temen-temen sahabatku itu. Tapi nggak tahu kenapa, pikiranku nggak bisa ngilangin dari bayang-bayang wajah Pasha, yang akhirnya jadi deg-degan lagi deh.

Huu! emang susah kalau mau ketemu seseorang yang kita suka. Belum lagi kalau ternyata dia nggak suka ngeliat kita.jangan-jangan Pasha sombong, sikapnya dingin, cuek. HUH! kalau bayangin gitu, sepertinya aku kepengen mundur aja, batalin ketemu Pasha.

Biar aja aku mengenal Pasha dari jauh, dari televisi, atau lewat mimpi yang selalu tertunda, daripada aku kenal aslinya yang takut aku bayangin.


Tapi semua sudah telanjur....

Sahabatku ngagetin aku dengan ngasih tahu kalau kita sudah sampai di rumah Pasha. Eh, bukan rumahnya, tapi sebuah studio musik di kawasan bogor. Bentuk bangunannya seperti ruko. Di lantai bawah ada restonya. Kata sahabatku, ini juga restonya Pasha. Wah, Pasha hebat ya...biar udah udah terkenal masih mau buka restoran.Hhmm...

Di resto itu ada penerima tamu. Mereka bilang Pasha sedang keluar sebentar. Kita semua disuruh nunggu. Huh, aku makin sebel. Bukan sebel karena disuruh nunggu, tapi sebel karena semakin lama nunggu, semakin lama juga aku deg-degan. Kan capeeekkk..

Aku minum segelas orange juice. Mudah-mudahan dinginnya bisa ngilangin rasa deg-degan yang nggak penting ini. Mataku ngeliatin seluruh isi ruangan. Di beberapa dinding terpampang foto Pasha. Hmm..., cowok ini memang ganteng ya. Aku suka... titik.

Lalu.....
aku teringat lagi dengan pikiranku, Berandai-andai, gimana kalau ternyata nggak seperti yang aku bayangin? Gimana kalau ternyata Pasha itu malah melihatku dengan sebelah mata?

Tau ah gelap! toh aku cuma gadis biasa, yang awalnya cuma kagum karena melihat tampanannya. Tapi siap nggak ya kalau aku melihat sosok dan sifat Pasha nggak seperti yang aku bayangkan?

Ah.., kali ini benar-benar aku pengen mundur untuk bertemu Pasha. Aku pilih melihatnya dari kejauhan, dari TV, dari mimpi, atau dari mana saja yang penting aku nggak mau melihat dia dari jarak dekat.

Biarlah Pasha menjadi bintang yang susah aku raih, kalau pilihannya ternyata bintang itu tak seindah dilihat dari kejauhan. Aku nggak mau itu. Aku pengin melihat Pasha seperti bintang dengan kilaunya yang indah, cuma itu. >>>

 



Tapi nggak tahu kenapa ketika sahabatku bilang kalau aku batal bertemu Pasha karena ternyata Pasha harus mendadak ke studio rekaman, mendengar itu aku sedih. Aku kecewa karena batal bertemu.

Padahal aku sudah semalaman susah tidur, bingung mikirin mau pakai baju apa, dan dibikin repot dengan segala hal, sampai aku deg-degan dan ngerasa lelah. Tapi kok seenaknya sekarang malah ngebatalin janji.

Huh..
benerkan!

Mendingan aku kenal dia dari jarak jauh, dari TV, dari mimpi. Nggak seperti sekarang, dia baru batalin ketemu aja aku sudah sakit hati.



   Mungkin 
 benar....
  Pasha sombong. Pasha tak sebaik yang aku bayangin. Pasha cuma bintang yang ada di langit, dan nggak mungkin mau turun ke bumi. Apalagi hanya untuk ketemu aku.  

Huuuu...sedih. kecewa, marah, sebel, kesel sama Pasha, juga sama sahabatku yang memberi janji palsu bisa ketemuin aku dengan Pasha, yang ternyata semua batal hanya gara-gara mendadak ke studio rekaman. Huh!

Nggak tahu dari mana awalnya, tiba-tiba aku nangis. Airmataku susah dibendung. sahabatku nggak bisa menenangkan aku. Semua temen-temen sahabatku ikut-ikutan sibuk menghibur aku. Tapi aku tetap nangis. Aku sendiri bingung kenapa airmata ini susah berhenti. Aku sendiri malu kenapa nangis. Tapi airmata kan nggak bisa bohong. Hatiku juga nggak bisa bohong. Mereka yang lebih jujur ketimbang bibirku yang selalu bilang, nggak apa-apa! Huh, dasar mulut kadang munafik!


Aku Letih.
Kakiku berat melangkah.
Kepalaku pusing.

Jalanku dipapah oleh sahabatku dan teman-temannya. Aku merasa payah. Kenapa juga hanya demi dan batal bertemu Pasha seperti menghabiskan seluruh jiwa ragaku. Tubuhku bener-bener lunglai, seperti tak bertulang. Untuk membuka pintu mobil saja aku sudah seperti tak punya tenaga ekstra. Apalagi harus menggeser berat badanku di jok mobil. Siang itu, aku seperti mendadak demam. Semuanya hanya gara-gara batal bertemu sang idola.

Ah... aku coba buang semua kemarahanku. Dan ketika mobil pelan-pelan bergerak mundur meninggalkan area parkir tempat resto milik Pasha, saat itu juga aku mendengar suara yang kukenal. Suara yang aku sendiri belum sadar sepenuhnya suara siapa. Tapi entah kenapa aku merasa mengenalnya dekat, sangat dekat. Setelah menengokkan kepala dari jendela, aku melihat suara itu muncul dari seorang tukang parkir yang mengenakan jaket  motif hijau army. Tapi aku nggak bisa melihat wajahnya, karena dia selalu menunduk. >>>

 

Aku penasaran. Dilihat dari pakaiannya, cowok itu nggak pantes jadi tukang parkir. Bajunya bagus, kulit jarinya juga yang menyembul dari ujung jaketnya juga kelihatan putih dan terawat. Aku makin penasaran. Dan tiba-tiba rasa penasaranku bikin aku punya tenaga baru untuk turun dari mobil. Semua mencegahku.

Aku nekat turun. Secepat kilat aku berdiri di samping si tukang parkir. Aku langsung aja bertanya, kamu siapa? eh, bukannya menjawab, si tukang parkir itu malah membelakangi aku. Aku bergeser ke samping tubuhnya, penasaran pengen melihat wajahnya, eh dia malah bergeser terus, menghindar. Aku tarik lengan jaketnya, saat itulah aku ingin berteriak.
AAAARRRGHHH!

Kamu pasti nggak percaya siapa si tukang parkir itu. Ya, si tukang parkir itu adalah cowok yang selama ini baru aku kenali dari suaranya. Ya, si tukang parkir dengan jaket warna hijau army yang kelihatan keren dengan jemari tangan yang terawat rapi itu nggak lain adalah.....PASHA UNGU!

 

 

 


     
AAAA
RRRR
GHH!!
      Untuk kedua kalinya aku berteriak, nggak percaya. Aku kembali menangis. Kali ini menangis bahagia. Aku baru sadar, kalau dari tadi sahabatku dan teman-temannya sudah berkomplot untuk ngerjain aku. Mereka sengaja membatalkan pertemuan karena pengen tahu gimana reaksiku. Ampun! Dasar semuanya jahat! Nggak berperasaan, dan tega mempermainkan perasaaanku. Huh! Pasha juga jahat? Ah, enggak. Dia pasti hanya ngikutin skenario sahabatku dan teman-temannya itu. Huh! Dasar jelek! Tega ya bikin sahabatnya sendiri kecewa, sedih sampai nggak punya tenaga untuk berjalan pulang. Kok ada ya sahabat yang seperti itu?! Semua kejengkelan itu kutumpahkan, sambil memeluk idolaku, A'a Pasha. Auw...lagi-lagi A'a.

Percaya nggak kalau Pasha itu ternyata ramah. Dia juga lebih guanteng dari yang kubayangkan. Dia, ibarat bintang yang bersinar di langit dan di bumi. Senyumnya sejuk seperti embun di pagi hari. Tawanya merdu, seperti lantunan suaranya saat menyanyikan lagu-lagu milik Ungu. Ah, sahabat..., terima kasih telah mempertemukan dia denganku. Aku bahagia. Nggak pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini.

Siang itu...

aku habiskan waktu untuk berdua sama Pasha. Dia bertanya soal latar belakang keluargaku. Aku suka, bukan cuma aku yang pengen tahu soal dia, tapi ternyata dia juga kepengen tahu soal keluargaku. Ya, Pasha yang aku kenal ternyata lebih ramah dari yang kubayangkan. Dan sepanjang hari itu, selama 2 jam tepatnya (tapi kok terasa sepanjang hari, ya?), aku habiskan waktu untuk ngobrol sama dia. Kita makan bareng, suap-suapan, minum orange juice berdua, semuanya cuma berdua. Sekali lagi aku senang. Aku bahagia, lebih dari yang kuduga. Dan aku tak melewatkan sesi foto-foto berdua dalam berbagai pose.

Foto yang bisa kujadikan bukti buat anak cucuku (Ah, masih terlalu jauh ya untuk punya anak cucu Hihihihi....), yang menjadi kenangan tak terlupakan, sampai nanti. Dan waktu terus bergulir. Nggak terasa aku harus berpisah, dan kali ini Pasha benar-benar harus masuk studio rekaman ditunggu personil Ungu lainnya. Nggak apa-apa. Dua jam sudah membuatku puas, meskipun kalau boleh memilih aku ingin menemaninya ke studio.

Aku memang bukan Cliquers, tapi aku adalah Pashalicious....

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Di akhir perpisahan, Pasha memelukku, membisikkan sesuatu, "Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya?"

Ah, aku cuma bisa mengangguk. Kalau aku leluasa bicara, pasti aku sudah teriak, "Mauuuuuu..."

Kemudian Pasha mencium keningku, huff....romantis sekali. Gimana cewek-cewek nggak 'gemeter' diperlakukan seperti itu. Atau mungkin cuma aku, karena aku terlalu memujanya.

Dan sepanjang perjalanan pulang, aku nggak berusaha menghapus keningku dari keringat yang mengucur. Biarlah bekas kecupan itu terus menempel, meninggalkan jejak kenangan yang manis.

Local Buzz

Worldwire

Photos

Rabu, 22/5/2013 17:53

Menjelang ulang tahun cumicumi.com yang ke-4, berikut adalah foto-foto pada saat lauching cumicumi.com yang berlangsung di D'bar cafe, Pondok Pinang,…

 
 
more
Review cumicumi.com on alexa.com