Profile

Sutarno. Nama pesulap yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, Sutarno atau Pak Tarno panggilan akrabnya mulai dikenal setelah ikut acara duel sulap di The Master yang dipandu Deddy Corbuzier pada 29 Mei 2009. Di situ, bapak 61 tahun dengan logat bicara Tegal ini muncul dan beraksi sulap tradisional. Maksudnya tradisional adalah atraksi sulap yang sering dilihat saat kita masih kecil.  

Dengan penuh percaya diri, Pak Tarno menunjukkan aksi sulapnya kendati ada pesulap modern lain yang tampil dengan gaya wah seperti Joe Sandy, Darko, Limbad, dan masih banyak lagi. Padahal, peralatan dan persiapan yang digunakan Pak Tarno saat itu terbilang berantakan dan berkesan tidak meyakinkan. Efek-efek sulap yang dihasilkan Pak Tarno juga jauh dari kesan wow karena atraksinya yang sederhana dan terbilang jadul atau kuno.

Sutarno. Nama pesulap yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, Sutarno atau Pak Tarno panggilan akrabnya mulai dikenal setelah ikut acara duel sulap di The Master yang dipandu Deddy Corbuzier pada 29 Mei 2009. Di situ, bapak 61 tahun dengan logat bicara Tegal ini muncul dan beraksi sulap tradisional. Maksudnya tradisional adalah atraksi sulap yang sering dilihat saat kita masih kecil.  

Dengan penuh percaya diri, Pak Tarno menunjukkan aksi sulapnya kendati ada pesulap modern lain yang tampil dengan gaya wah seperti Joe Sandy, Darko, Limbad, dan masih banyak lagi. Padahal, peralatan dan persiapan yang digunakan Pak Tarno saat itu terbilang berantakan dan berkesan tidak meyakinkan. Efek-efek sulap yang dihasilkan Pak Tarno juga jauh dari kesan wow karena atraksinya yang sederhana dan terbilang jadul atau kuno.

Bahkan saat penilaian oleh juri, mimik wajah Sutarno yang semula ceria, tanpa beban, dan apa adanya, tiba-tiba berubah kecut ketika Master Deddy Corbuzier menyatakan Pak Tarno tidak layak tampil. Padahal para penonton memberikan tepuk tangan sambil berdiri dan juri lainnya memuji penampilan Pak Tarno, bahkan Joe Sandy merasa terharu karena menjadi teringat masa kecilnya.

Namun seketika itu pula Deddy menyampaikan pengakuannya bahwa Pak Tarno tidak layak dipertandingkan karena Pak Tarno adalah The Master of Traditional Magic dan pada episode pertama The Master 3 tersebut, pesulap tradisional asal Brebes, Jawa Tengah ini mendapat hadiah televisi agar dia dapat menonton The Master di rumahnya sendiri.


Hal ini ternyata benar. Pak Tarno tidak memiliki televisi. Di kediamannya di Jalan Duku Timur, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, di ruang tamunya hanya ada sebuah televisi kuno yang sudah tidak berfungsi. Mirisnya, Pak Tarno juga mengaku kalau mau nonton siaran televisi, dia harus ke rumah tetangga. Dari atraksi yang disuguhkan Pak Tarno, ada pelajaran yang bisa dipetik, bukan karena dia menjual cerita sedih dan mengiba agar penonton terharu dan mengirimkan SMS dukungannya, tapi karena dia bekerja dengan hati untuk melakukan atraksi sulap tersebut.  

Nah soal kemampuannya bisa bermain sulap, Sutarno mengaku sempat berpuasa tiga tahun. Kata-katanya yang khas adalah "Tolong dibantu yak? Bin Salabin Jadi apa prok prok prok". Semula, Pak Tarno tinggal di Warakas, Tanjung Priok. Aksinya di The Master dan meraih predikat tertinggi dari sulap tradisional rupanya bentuk dari keprihatinan selama hidupnya. Sebab, sejak kecil, Sutarno yang lahir dari keluarga kekurangan, diasuh oleh sang nenek di Brebes, Jateng. Hal ini karena ayahnya meninggal dunia dan ibunya pergi ke Sumatera untuk bekerja.

Dulu sejak kecil, Pak Tarno menggembala sapi dan kambing punya tetangga. Upahnya pun hanya dengan padi dan diberikan pada sang nenek. Barulah pada 1974, Pak Tarno pergi ke Jakarta dengan menumpang kereta barang sampai dia terdampar di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Saat itu dia hanya punya modal cangkul saja, tetapi paculnya tidak digunakan karena ada peluang menjadi pedagang minyak tanah. Setelah jual minyak tanah, dia sempat menjadi penjual air keliling, dan yang terakhir sampai sekarang berjualan mainan anak-anak keliling dengan sepeda dan mangkal di sekolahan.

 

 

Berdagang mainan anak-anak setiap hari berpindah dari sekolah satu ke sekolah lainnya, ternyata tidak juga mencukupi hidupnya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Meskipun miskin dan serba kekurangan, namun Pak Tarno tetap tabah dan terus menekuni pekerjaannya berjualan mainan anak-anak. Selain berpuasa dia pun sering sholat hajat di tengah malam dan dilanjutkan dengan dzikir.

Hingga suatu malam Pak Tarno bercerita seperti ketemu wali. Saat itu, Pak Tarno sudah berpuasa tiga tahun. Setelah dzikir, tiba-tiba Pak Tarno mengucapkan kata-kata seperti bahasa Jawa kuno yang hanya dimengerti sebagian saja. Dia pun mengaku ada tiga kalimat panjang yang secara cepat bisa dihafalnya. Keesokan harinya, dia hanya bisa termenung memikirkan kejadian malam itu. Tetapi akhirnya dia mengabaikan yang telah terjadi.

Tetapi, ketika akan berangkat menjajakan dagangannya, Pak Tarno tiba-tiba mempunyai ide membuat permainan sulap. Dia mulai mencoba-coba permainan dari kertas dan terpikir kembali olehnya kata-kata bahasa Jawa kuno yang diperolehnya di tengah malam sebelumnya. Inilah yang dianggapnya sebagai mantra dan dipakai hingga sekarang, termasuk ketika tampil di The Master.


Di kalangan anak-anak sekolah dasar tempatnya mangkal, Pak Tarno selalu ditunggu-tunggu. Bapak berputra enam ini, merasa bahagia bisa dihargai anak-anak, meskipun penghasilannya terus pas-pasan, bahkan dia pun terpaksa menitipkan anak-anaknya kepada keluarganya. Keikhlasan Pak Tarno menjalani hidup hingga kini dan dibantu oleh istrinya yang menjadi buruh cuci baju di tetangganya, terus dipertahankan. Hingga akhirnya, kini Pak Tarno bisa meraih predikat The Master of Tradisional Magic karena dia mampu membuat trik sulap hanya dengan alat-alat yang sederhana. Selain bunga dan kertas, binatang yang sering dipakai sulap olehnya antara lain, burung puyuh, kelinci, anak ayam, dan telur.

Kini Pak Tarno menjadi terkenal dan banyak perempuan "hinggap" di sisinya. Bahkan saking terkenalnya, dia mengaku pernah ditipu seorang wanita berusia 25 tahun. Tak cuma itu, belum lama ini, Sutarno dikabarkan hendak menikah dengan seorang kekasihnya yakni Pramugari asal Riau bernama Sri Rahayu dengan alasan sudah tidak betah hidup sendiri.

Dari keterangan Pak Tarno, dia bakal menikahi Sri Rahayu tahun ini namun tidak dalam waktu dekat. Pak Tarno juga belum mengenalkan calon istrinya itu ke publik, yang jelas baginya, Sri Rahayu cantik, tinggi, putih, karena pekerjaannya sebagai pramugari.

Tak cuma itu, dia juga bercerita kalau selama ini sering berkunjung ke kediaman Sri. Di situ, Pak Tarno bertemu dengan orangtua Sri dan katanya diberi lampu hijau. (cumicumi@Jak)

 


blog comments powered by Disqus

Local Buzz

Worldwire

Photos

Rabu, 22/5/2013 17:53

Menjelang ulang tahun cumicumi.com yang ke-4, berikut adalah foto-foto pada saat lauching cumicumi.com yang berlangsung di D'bar cafe, Pondok Pinang,…

 
 
more
Review cumicumi.com on alexa.com